Tipe Rumah Modern 2016 Murah

Tipe Rumah Modern 2016 Murah RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL). Tipe Rumah Modern 2016 Murah

Tipe Rumah Modern 2016 Murah

Tempat Rumah Modern 2016 Murah

Tempat Rumah Modern 2016 Murah RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL). Tempat Rumah Modern 2016 Murah

Tempat Rumah Modern 2016 Murah

Harga Rumah Modern 2016 Murah

Harga Rumah Modern 2016 Murah RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL). Harga Rumah Modern 2016 Murah

Harga Rumah Modern 2016 Murah

Jual Rumah Modern 2016 Murah

Jual Rumah Modern 2016 Murah RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL). Jual Rumah Modern 2016 Murah

Jual Rumah Modern 2016 Murah

Cari Rumah Modern 2016 Murah

Cari Rumah Modern 2016 Murah RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL). Cari Rumah Modern 2016 Murah

Cari Rumah Modern 2016 Murah

Tipe Rumah Impian 2016 Murah

Tipe Rumah Impian 2016 Murah RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL). Tipe Rumah Impian 2016 Murah

Tipe Rumah Impian 2016 Murah

Tempat Rumah Impian 2016 Murah

Tempat Rumah Impian 2016 Murah RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL). Tempat Rumah Impian 2016 Murah

Tempat Rumah Impian 2016 Murah

Harga Rumah Impian 2016 Murah

Harga Rumah Impian 2016 Murah RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL). Harga Rumah Impian 2016 Murah

Harga Rumah Impian 2016 Murah

Jual Rumah Impian 2016 Murah

Jual Rumah Impian 2016 Murah RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL). Jual Rumah Impian 2016 Murah

Jual Rumah Impian 2016 Murah

Saco-Indonesia.com - Vitamin D tak hanya baik untuk jantung dan tulang , tetapi juga penting untuk kesehatan organ dan jaringan dalam tubuh, terutama untuk kesehatan otak.

Saco-Indonesia.com - Vitamin D tak hanya baik untuk jantung dan tulang , tetapi juga penting untuk kesehatan organ dan jaringan dalam tubuh, terutama untuk kesehatan otak. Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa kekurangan vitamin D bisa menyebabkan kerusakan pada otak.

Penelitian yang dilakukan oleh University of Kentucky menunjukkan bahwa tikus yang diberikan makanan rendah vitamin D secara berkala akan mengalami kerusakan pada oraknya. Tikus-tikus eksperimen itu juga mengalami penurunan kemampuan kognitif, ingatan, serta kemampuan untuk belajar.

"Biasanya kekurangan vitamin D terjadi pada manula atau pada orang berusia pertengahan. Vitamin D penting untuk mencegah kerusakan akibat radikal bebas pada otak," ungkap ketua peneliti Allan Butterfield, seperti dilansir oleh Science Daily (02/12).

Sebelumnya, penelitian lain juga menemukan bahwa kurang vitamin D bisa menyebabkan penyakit Alzheimer serta berkaitan dengan penyakit jantung dan beberapa jenis kanker. Butterfield merekomendasikan agar manula atau orang dewasa mengetahui tingkat vitamin D pada tubuh mereka.

Jika tingkat vitamin D tergolong rendah, mereka harus mulai mengonsumsi makanan yang kaya vitamin D atau mengonsumsi suplemen vitamin D. Tak hanya itu, berjemur selama 10 - 15 menit di bawah matahari juga bisa membantu menambah asupan vitamin D dan menjaga kesehatan otak.

Editor : Liwon Maulana

Sekarang banyak sekali toko online maupun perorangan yang membuka bisnis jual beli tas dan jual buku. Bukan hanya tas biasa tanp

Sekarang banyak sekali toko online maupun perorangan yang membuka bisnis jual beli tas dan jual buku. Bukan hanya tas biasa tanpa merek yang berharga murah dan terjangkau tetapi tas yang memiliki brand terkenal di seluruh dunia. Peminatnya sangat banyak, meskipun yang mereka jual bukan tas branded asli namun kualitas 1, kualitas 2 dsb. Bagaimana bisa ikut melaksanakan bisnis jual beli tas merek mahal ( branded bags) tersebut?

Tas adalah salah satu pelengkap penampilan yang selalu dibutuhkan oleh wanita. Wanita tidak akan keluar rumah tanpa tas di tangannya baik itu tas selendang, dompet, tas besar ataupun tas ransel. Selalu ada tas untuk membawa semua keperluan wanita saat berada di luar rumah. Jika anda penyuka tas maka maksimalkan hobi Anda dengan berbagi selera tas pada pehobi tas lainnya.

Sebenarnya Anda bisa memulai bisnis tas dengan brand sendiri namun tentu perlu waktu untuk bisa menggapai pelanggan yang banyak dan namanya dikenal luas. Tas branded dianggap pelanggan memiliki kualitas prima dengan ketahanan bahan yang lama. Harga tinggi sesuai dengan kualitas produk dan pelanggan tidak keberatan dengan hal itu. Namun tentunya tidak semua orang bisa menjangkau harga tinggi sebuah tas branded. Maka itulah muncul tas-tas branded kualitas 1 dan kualitas 2.

Tas branded kualitas 1 dan 2 ini diproduksi oleh pelaku usaha selain produsennya yang asli. Mereka membuat tas dengan brand yang mirip dan tas dibuat semirip mungkin seperti tas dari brand terkenal itu. Pelanggan dengan tingkat finansial yang pas-pasan namun ingin memiliki tas branded biasanya membeli tas branded KW ini. Jadi untuk ukuran pelanggan kelas menengah ke bawah, prospek bisnis tas branded KW ini cukup menjanjikan.

Bagaimana prospek bisnis jual beli tas merek mahal (branded) di Indonesia? Masyarakat Indonesia dikenal oleh dunia sebagai masyarakat gemar belanja atau konsumtif. Fashion atau trend apapun yang sedang ‘in’ di dunia sudah pasti langsung diminati oleh masyarakat disini. Banyak counter dan kios yang menjual gadget, pakaian, sepatu sampai tas dan aksesoris bertebaran di berbagai mal dan pertokoan.

Bagi Anda yang berminat untuk memulai bisnis di bidang jual beli tas ini maka Anda harus memikirkan konsep yang bagus untuk membuat business plan. Setelah itu baru anda memikirkan hal lain seperti modal, surat resmi mendirikan perusahaan, perhitungan pajak, membangun tim kerja yang solid dan menentukan target pasar yang Anda bidik.

Bekasi, Saco-Indonesia.com - Mantan Ketua MK Akil Mochtar tak hanya disangka kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Lebak, Banten dan Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah.

Bekasi, Saco-Indonesia.com - Mantan Ketua MK Akil Mochtar tak hanya disangka kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Lebak, Banten dan Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah.

Akil juga disangka menerima hadiah atau janji (gratifikasi) delapan sengketa Pilkada lainnya, yaitu Pilkada Banten, Jawa Timur, Empat Lawang (Sumatera Selatan), Palembang, Lampung Selatan, Tapanuli Tengah, Morotai (Maluku Utara), dan Buton (Sulawesi Tenggara).

"Itu sangkaan pada Pasal 12 B (Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi). Untuk Pilkada Jawa Timur, khusus dugaan penerimaan janji," ujar Juru Bicara KPK Johan Budi di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (29/1/2014) kemarin.

Dugaan gratifikasi terkait sengketa Pilkada lainnya itu merupakan proses pengembangan yang dilakukan KPK setelah melakukan pemeriksaan saksi, serta menemukan barang bukti saat penggeledahan di sejumlah tempat.

Johan menambahkan, berkas perkara Akil untuk 10 sengketa Pilkada itu pun sudah dilimpahkan ke tahap penuntutan. Berkas perkara juga telah dinyatakan lengkap untuk dugaan pencucian uang yang juga disangkakan kepada Akil. 

Dengan demikian, Akil akan segera menjalani sidang perdana di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta pada Februari 2014. "Ini yang nanti akan didakwakan dalam proses penuntutan," kata Johan.

Kasus ini bermula ketika Akil ditangkap KPK saat akan menerima uang dari politisi Partai Golkar Chairun Nisa dan pengusaha Cornelis Nalau Antun. Uang itu berasal dari Bupati Gunung Mas terpilih, Hambit Bintih untuk mempengaruhi Akil dalam putusan sengketa Pilkada Gunung Mas.

Untuk memutus perkara sesuai permohonan Hambit, Akil disebut meminta uang Rp 3 miliar. Chairun Nisa, Cornelis, dan Hambit, juga ditetapkan KPK sebagai tersangka.

Untuk kasus Lebak, Akil diduga bersama-sama pengacara Susi Tur Andayani menerima suap dari Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan yang merupakan adik dari Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah. KPK juga menetapkan Susi, Wawan, dan Atut sebagai tersangka.

Sumber : Kompas.com

Editor : Maulana Lee

Sebagai salah satu destinasi wisata populer di Indonesia, Danau Toba selalu menarik minat traveler lokal maupun mancanegara. Tid

Sebagai salah satu destinasi wisata populer di Indonesia, Danau Toba selalu menarik minat traveler lokal maupun mancanegara. Tidak perlu heran, Danau Toba memang telah memiliki pemandangan yang sangat indah dengan hamparan air danau yang jernih serta pemandangan pegunungan hijau yang sangat menyejukkan.

Memiliki panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer, Danau Toba adalah danau terbesar di Indonesia. Lebih membanggakan lagi, Danau Toba juga merupakan danau vulkanik terbesar di dunia lho!

Karena terletak di ketinggian 900 meter dari permukaan laut, Danau Toba telah menjadi tempat wisata yang cocok kalau Anda mau melepas lelah dan refreshing karena udaranya yang sangat sejuk dan segar. Anda juga akan bisa menikmati keindahan alam di sini dengan berbagai cara seperti mendaki gunung, berenang, berperahu atau kegiatan lainnya. Belum lagi, Anda bisa mengunjungi Pulau Samosir yang terletak di tengah danau dan telah memiliki panorama yang tidak kalah indah.

Tapi, sebelum bersenang-senang di Danau Toba, tentunya Anda juga perlu menyiapkan perjalanan menuju obyek wisata terpopuler di Sumatera Utara ini. Perjalanan menuju Danau Toba memang cukup sangat panjang. Setelah ‘terbang’ ke Medan, Anda juga harus menempuh perjalanan selama kira-kira 4 jam menuju Kota Parapat. Tapi, traveler sebenarnya juga bisa memanfaatkan Bandara Silangit yang terletak di Kabupaten Tapanuli Utara, karena bandara ini hanya berjarak 30 menit ke Danau Toba dan satu jam ke Pulau Samosir. Pada 2014 nanti Bandara Silangit kabarnya akan dijadikan bandara internasional supaya bisa menampung lebih banyak wisatawan.

Anda juga akan menemukan banyak penginapan di sepanjang tepi danau, mulai dari guest house, villa, bungalow dan hotel, jadi Anda tidak perlu pusing lagi untuk memikirkan masalah akomodasi. Bagaimana dengan makanan? Wah, kamu tidak akan ‘kelaparan’ selama di Danau Toba karena banyak restoran yang telah menyajikan masakan lokal di sepanjang jalan utama. Masakan khas Sumatera Utara sendiri mirip dengan masakan Padang, karena kaya rasa, bersantan dan mayoritas memiliki citarasa pedas.

Selain menikmati pemanangan spektakuler Danau Toba dan sekitarnya, Anda juga bisa menemukan destinasi menarik lainnya. Mungkin tidak banyak yang tahu kalau Danau Toba ternyata juga memiliki pantai, yaitu Pantai Lumban Binaga.

Tentu saja, kunjungan ke Danau Toba tidak akan lengkap tanpa menyeberang ke Pulau Samosir. Di sini, Anda juga bisa mengunjungi dua kecamatan yang populer di kalangan wisatawan yaitu Tomok dan Tuktuk.

PSamosir1

Ada tiga tempat yang wajib Anda kunjungi selama di Tomok: Boneka Si Gale-Gale, Makam Raja Sidabutar, dan Museum Batak. Pertunjukan Boneka Si Gale-Gale biasa ditampilkan bersama dengan pertunjukan tari Tor Tor yang terkenal. Sementara, di Makam Raja Sidabutar Anda bisa melihat batu makam besar yang dipahat berbentuk wajah dengan ciri khas rambut gondrong Sang Raja.

Kalau Tomok penuh dengan obyek wisata menarik, Tuktuk adalah kecamatan yang dipenuhi tempat penginapan. Jadi, kalau Anda ingin segera melepas lelah ketika tiba di Pulau Samosir, langsung saja datang ke Tuktuk ya!

Belum puas menjelajah Danau Toba? Anda juga bisa mengeksplorasi Kota Parapat dan mengunjungi sejumlah tempat wisata menarik. Termasuk Batu Gantung yang unik karena bentuknya yang menyerupai manusia. Konon, batu ini telah diyakini merupakan penjelmaan gadis cantik bernama Seruni. Menurut legenda masyarakat setempat, Seruni mencoba bunuh diri melompat ke Danau Toba karena tidak ingin dijodohkan oleh orangtuanya. Tapi saat berjalan menuju tebing, dia terperosok ke dalam lubang batu yang besar dan memutuskan mengakhiri hidupnya di batu itu. Batu tersebut akhirnya menghimpit tubuh Seruni sehingga kini kamu bisa melihat batu besar yang menyerupai tubuh seorang gadis yang seolah-olah menggantung di tepi tebing.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pesona Danau Toba memang sulit diacuhkan ya, travelers? Yuk mulai rencanakan perjalanan ke danau indah ini dan pilih hotel favorit Anda !

saco-indonesia.com, Kuasa hukum tersangka dalam kasus suap Pemilukada Lebak, Ratu Atut Chosiyah, TB Sukatma, juga mengatakan kli

saco-indonesia.com, Kuasa hukum tersangka dalam kasus suap Pemilukada Lebak, Ratu Atut Chosiyah, TB Sukatma, juga mengatakan kliennya telah diperiksa oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus dugaan suap pada Pemilukada Lebak, Banten.

"Diperiksa sebagai saksi (dalam jadwal KPK sebagai tersangka). Untuk kasus Lebak," kata Sukatma di Gedung KPK, Jumat (27/12/2013).

Pemeriksaan itu terkait dengan adanya keterlibatan Tubagus Chairi Wardana alias Wawan, dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar. "Beliau juga harus mempelajari kembali dokumen yang berkaitan dengan perkara beliau maupun keterangan saksi-saksi lain," terangnya.

Atut sampai di KPK, sekira pukul 10.15 WIB tadi. Dia tak berikan komentar apapun, sang Gubernur itu langsung melenggang menuju ruang penyidikan.


Editor : Dian Sukmawati

saco-indonesia.com, Saat anda ingin membeli laptop baru, anda juga harus bisa mempertimbangkan berbagai aspek agar tidak menyesa

saco-indonesia.com, Saat anda ingin membeli laptop baru, anda juga harus bisa mempertimbangkan berbagai aspek agar tidak menyesal dikemudian hari. Apa saja yang harus diperhatikan? Untuk dapat menjawabnya, silahkan simak artikel kami tentang tips membeli laptop baru

tips membeli laptop
Tips Membeli Laptop BaruTips Membeli Laptop Baru

1. Spesifikasi itu penting

Spesifikasi adalah hal yang sangat penting. Perlu Anda ketahui kebutuhan tiap orang dalam menggunakan laptop itu sangat berbeda-beda. Maka dari itu, definisikan dulu kebutuhan Anda saat ini. Apakah anda seorang pelajar atau mahasiswa? Apakah anda seorang guru? Apakah Anda seorang desainer? Atau apakah Anda seorang gamer?

Dari masing-masing kebutuhan tersebut, akan dapat memunculkan spesifikasi yang berbeda-beda. Ambil contoh seorang mahasiswa yang sangat membutuhkan laptop untuk dapat mengerjakan tugas-tugas kuliah, mencari referensi di internet, dan membutuhkan media hiburan dengan aneka game komputer lainnya. Ia juga tak memerlukan laptop dengan spesifikasi cukup tinggi.

Ia juga bisa memilih laptop dengan spesifikasi yang sesuai dengan kebutuhan, misalnya prosesor dual-core, dengan RAM cukup 2GB saja, plus VGA standar. Sehingga dengan begitu, ia juga tidak perlu menghabiskan banyak uang untuk dapat membeli laptop dengan spesifikasi tinggi yang pastinya berharga mahal.

Oleh karena itu, menentukan kebutuhan itu sangat penting pada saat Anda ingin membeli laptop baru.

2. Brand menentukan kualitas

Ini hal yang sudah biasa, laptop dengan brand yang terkenal pasti telah memiliki kualitas yang lebih baik. Bukannya tanpa, tapi coba Anda perhatikan, laptop-laptop dengan brand terkenal biasanya telah memiliki harga relatif tinggi jika dibandingkan dengan brand biasa.

Ini bukan karena mereka menang di brand atau sebagainya makanya membuat harga yang mahal. Melainkan karena produk yang diciptakan juga telah memiliki standar kualitas yang baik serta berbagai komponen laptop tersebut memang menggunakan komponen yang bagus juga.

Selain itu, laptop dengan brand terkenal juga masih memiliki nilai jual kembali yang cukup tinggi nantinya. Jadi memilih brand juga tergolong penting pada saat Anda ingin membeli laptop baru.

3. Perhatikan garansi yang diberikan

Selain dalam memperhatikan spesifikasi dan brand, keberadaan garansi juga merupakan hal yang penting. Pada saat Anda ingin membeli laptop, coba perhatikan berapa lama waktu garansi yang telah diberikan oleh produsennya.

Karena tidak semua laptop dapat memberikan waktu garansi yang sama. Mungkin ada yang memberikan garansi selama satu tahun, atau bahkan ada juga yang memberikan waktu garansi selama dua tahun.

Semakin lama waktu garansi yang telah diberikan akan semakin baik. Jangan takut untuk mengurus garansi bila suatu saat laptop Anda telah mengalami kerusakan. Selain dengan menghemat uang, laptop Anda juga akan diperbaiki teknisi resmi dari penyedia brand laptop tersebut.

Itulah beberapa tips dalam membeli laptop baru. Semua aspek di atas sangat penting untuk anda perhatikan dengan baik, agar tidak salah dalam memilih laptop. Setelah membaca tips di atas, semoga anda telah mendapat gambaran dalam hal membeli laptop baru.


Editor : Dian Sukmawati
Sumber : Bangbiw.com

saco-indonesia.com Merawat tanaman bunga dalam pot Tanaman hias dalam pot adalah pilihan yang sangat tepat bagi Anda yang

saco-indonesia.com

Merawat tanaman bunga dalam pot

Tanaman hias dalam pot adalah pilihan yang sangat tepat bagi Anda yang telah memiliki luas taman terbatas. Rumah Anda akan makin sempurna dengan kehadiran tanaman tersebut. Hanya saja, merawat bunga dalam pot sangat berbeda dalam merawat tanaman di alam terbuka. Sebab dari segi media, ruang yang telah disediakan untuk tanaman hanya sebatas pada ukuran pot saja. Bagi Anda pecinta tanaman hias dalam pot, berikut ini kami akan berikan tips perawatannya:
Pertama, media tanam. Hindari dengan menggunakan media tanam hanya berupa tanah saja.  Namun gunakan juga media tanam campuran sesuai dengan jenis tanaman yang akan ditanam. Sebelum media tanam dimasukkan ke dalam pot, lapisi bagian bawahnya dengan menggunakan styrofoam. Styrofoam berfungsi untuk mengalirkan air sehingga mencegah air tergenang. Jika air tergenang, maka tanah menjadi padat.. Hal ini juga akan menyebabkan warna daun menjadi kuning, layu, atau bentuknya keriting.  Selain styrofoam, Anda juga bisa menggantikannya dengan sabut kelapa.
Kedua, cahaya matahari. Perhatikan jenis tanaman hias yang Anda tanam dalam pot. Apakah termasuk yang membutuhkan cahaya matahari langsung ataukah harus ditempatkan di lokasi yang teduh. Jika jenis tanaman hias tersebut membutuhkan cahaya matahari langsung, maka Anda harus rajin menaruhnya di tempat yang terkena cahaya matahari langsung. Sebaliknya jenis tanaman teduh, sekali waktu Anda perlu menaruhnya di luar agar mendapatkan cahaya matahari langsung. Yakni minimal sekali dalam lima hari. Khusus untuk tanaman buah dalam pot serta tanaman berbunga, Anda harus memastikan tanaman tersebut terkena cahaya matahari. Sebab bila pasokan cahaya matahari kurang, maka tanaman tadi tidak akan berbunga dan sulit berbuah.
Ketiga, ukuran pot. Seiring dengan pertumbuhannya, tanaman hias dalam pot juga akan terus membesar. Jika ukurannya semakin besar, maka Anda perlu memindahkannya ke dalam pot yang ukurannya lebih besar. Namun untuk tanaman bonsai, Anda tidak perlu mengganti media tanam maupu potnya. Anda cukup menghambat pertumbuhannya dengan rajin memotong batangnya. Dengan cara ini, tanaman juga akan tetap berukuran kerdil.
Keempat, membersihkan daun. Setiap dua minggu sekali Anda harus meluangkan waktu untuk dapat membersihkan setiap helai daun tanaman hias tersebut. Bila Anda rutin melakukannya, maka setiap helai daun tersebut akan nampak mengkilat, bersih, dan juga sehat. Pembersihan permukaan daun akan membantu kelancaran proses fotosintesis karena pori-pori daun lebih bersih. Proses pembersihan daun bisa menggunakan cairan khusus (semir daun). Namun jika Anda kesulitan mendapatkannya, Anda juga bisa menggunakan susu cair. Basahi permukaan lap dengan susu cair. Lalu gosok dengan lembut setiap helai daun dengan menggunakan lap tersebut.
Kelima, pemupukan. Untuk tanaman hias berbunga, Anda harus memberinya pupuk NPK setiap bulan sekali.
Keenam, hama dan penyakit. Serangan hama dan penyakit bisa ditanggulangi dengan penyemprotan insektisida.


Editor : Dian Sukmawati

Bekasi, Saco-Indonesia.com - Mantan Ketua MK, Akil Mochtar, dijadwalkan akan bersaksi dalam kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Gunung Mas, Kalimantan Tengah di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (30/1/2014).

Bekasi, Saco-Indonesia.com - Mantan Ketua MK, Akil Mochtar, dijadwalkan akan bersaksi dalam kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Gunung Mas, Kalimantan Tengah di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (30/1/2014). Akil akan bersaksi untuk tiga terdakwa sekaligus yaitu politisi Partai Golkar Chairun Nisa, Bupati terpilih Gunung Mas Hambit Bintih, dan pengusaha Cornelis Nalau Antun.

"Pak Akil akan bersaksi jam 09.00," ujar pengacara Akil Tamsil Sjoekoer di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (29/1/2014).

Selain Akil, Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi akan menghadirkan saksi Ketua DPD Golkar Palangkaraya, Rusliansyah.

Dalam persidangan sebelumnya, Nisa mengaku didesak oleh Rusli untuk mempertemukan Hambit dengan Akil.

Seperti diberitakan, Nisa dan Cornelis tertangkap tangan oleh KPK ketika hendak memberikan uang pada Akil yang saat itu menjabat Ketua MK. Akil ikut diciduk KPK. Uang itu bertujuan agar permohonan keberatan hasil Pilkada Gunung Mas periode 2013-2018 ditolak. Dengan demikian, keputusan KPU Kabupaten Gunung Mas tentang pasangan calon terpilih pada Pilkada tersebut dinyatakan sah, yaitu dimenangkan pasangan nomor urut 2, Hambit dan Arton S Dohong.

Dalam dakwaan, Hambit meminta Nisa untuk menghubungkannya dengan pihak MK. Hambit dan Akil akhirnya bertemu. Kemudian, melalui Nisa, Akil menyatakan bersedia membantu Hambit dengan kesepakatan pemberian uang sebesar Rp 3 miliar dalam bentuk dollar AS. Nisa kemudian bertemu dengan Hambit dan menerima Rp 75 juta. Setelah itu, Nisa menemui Cornelis yang sudah menyiapkan dana Rp 3 miliar untuk Akil. Uang yang akan diserahkan ke Akil disimpan dalam empat amplop cokelat, yaitu masing-masing 107.500 dollar Singapura, 107.500 dollar Singapura, 22.000 dollar AS, 79.000 dollar Singapura.

Sumber :kompas.com

Editor : Maulana Lee

saco-indonesia.com, Jok Mobil merupakan salah satu elemen yang sangat penting, karena kenyamanan jok mobil juga dapat membuat ki

saco-indonesia.com, Jok Mobil merupakan salah satu elemen yang sangat penting, karena kenyamanan jok mobil juga dapat membuat kita nyaman juga saat berkendara. Tetapi jok mobil juga sering terkena tumpahan cairan seperti air susu ata minuman lainnya. Padahal  air susu ata minuman (kecuali air putih) yang telah merembes ke dalam jok juga dapat menyebabkan tidak sedap pada mobil.
Selain bau tak sedap juga dapat menyebabkan timbulnya jamur yang juga dapat mengundang perhatian hewan - hewan yang sangat menjijikkan masuk ke dalam mobil dan noda juga dapat membuat jok berwarna kusam. Untuk dapat mencegahnya, ada tips – tips tertentu yang dapat kita dilakukan.
Untuk dapat menghilangkan atau membersihkan cairan tersebut, kita juga dapat menggunakan beberapa alat seperti serbet, kain bersih, sprayer, sikat besar, sikat gigi, air sabun deterjen dan penyedot debu.
Jika Jok anda menggunakan jok kain, maka yang perlu diperhatikan adalah bahwa jok kain lebih dapat cepat menyerap air atau merembes, sehingga kita harus cepat menanganinya. Sedangkan untuk jok yang jenis kulit lebih mudah untuk ditangani, karena sifat kulit yang lambat untuk dapat menyerap air.
      Berikut ini ada beberapa tips yang dapat kita lakukan untuk dapat membersihkan jok kita dari air susu atau cairan lainnya :
1. Bersihkan jok yang terkena cairan dengan menggunakan mesin penyedot debu.
2. Oleskan atau Seprotkan deterjen pada jok mobil yang terkena cairan hingga merata.
3. Setelah diberi deterjen, kemudian sikat dengan sikat yang halus jok mobil hingga noda pada jok hilang.
4. Keringkan bagian yang basah tadi dengan menggunakan penyedot debu.
5. Agar bau pada mobil hilang, semprotkan pengharum mobil yang sesuai kesukaan anda.
6. Agar tidak terulang kembali, maka kita juga dapat menggunakan penutup jok, sehingga jok dapat terlindungi dari cairan.
Demikian Tips Membersihkan Noda pada Jok Mobil, semoga artikel diatas dapat bermanfaat


Editor : Dian Sukmawati

Ms. Plisetskaya, renowned for her fluidity of movement, expressive acting and willful personality, danced on the Bolshoi stage well into her 60s, but her life was shadowed by Stalinism.

Mr. Fox, known for his well-honed countrified voice, wrote about things dear to South Carolina and won over Yankee critics.

Mr. Bartoszewski was given honorary Israeli citizenship for his work to save Jews during World War II and later surprised even himself by being instrumental in reconciling Poland and Germany.

Judge Patterson helped to protect the rights of Attica inmates after the prison riot in 1971 and later served on the Federal District Court in Manhattan.

HOBART, Tasmania — Few places seem out of reach for China’s leader, Xi Jinping, who has traveled from European capitals to obscure Pacific and Caribbean islands in pursuit of his nation’s strategic interests.

So perhaps it was not surprising when he turned up last fall in this city on the edge of the Southern Ocean to put down a long-distance marker in another faraway region, Antarctica, 2,000 miles south of this Australian port.

Standing on the deck of an icebreaker that ferries Chinese scientists from this last stop before the frozen continent, Mr. Xi pledged that China would continue to expand in one of the few places on earth that remain unexploited by humans.

He signed a five-year accord with the Australian government that allows Chinese vessels and, in the future, aircraft to resupply for fuel and food before heading south. That will help secure easier access to a region that is believed to have vast oil and mineral resources; huge quantities of high-protein sea life; and for times of possible future dire need, fresh water contained in icebergs.

It was not until 1985, about seven decades after Robert Scott and Roald Amundsen raced to the South Pole, that a team representing Beijing hoisted the Chinese flag over the nation’s first Antarctic research base, the Great Wall Station on King George Island.

But now China seems determined to catch up. As it has bolstered spending on Antarctic research, and as the early explorers, especially the United States and Australia, confront stagnant budgets, there is growing concern about its intentions.

China’s operations on the continent — it opened its fourth research station last year, chose a site for a fifth, and is investing in a second icebreaker and new ice-capable planes and helicopters — are already the fastest growing of the 52 signatories to the Antarctic Treaty. That gentlemen’s agreement reached in 1959 bans military activity on the continent and aims to preserve it as one of the world’s last wildernesses; a related pact prohibits mining.

Advertisement

But Mr. Xi’s visit was another sign that China is positioning itself to take advantage of the continent’s resource potential when the treaty expires in 2048 — or in the event that it is ripped up before, Chinese and Australian experts say.

“So far, our research is natural-science based, but we know there is more and more concern about resource security,” said Yang Huigen, director general of the Polar Research Institute of China, who accompanied Mr. Xi last November on his visit to Hobart and stood with him on the icebreaker, Xue Long, or Snow Dragon.

With that in mind, the polar institute recently opened a new division devoted to the study of resources, law, geopolitics and governance in Antarctica and the Arctic, Mr. Yang said.

Australia, a strategic ally of the United States that has strong economic relations with China, is watching China’s buildup in the Antarctic with a mix of gratitude — China’s presence offers support for Australia’s Antarctic science program, which is short of cash — and wariness.

“We should have no illusions about the deeper agenda — one that has not even been agreed to by Chinese scientists but is driven by Xi, and most likely his successors,” said Peter Jennings, executive director of the Australian Strategic Policy Institute and a former senior official in the Australian Department of Defense.

“This is part of a broader pattern of a mercantilist approach all around the world,” Mr. Jennings added. “A big driver of Chinese policy is to secure long-term energy supply and food supply.”

That approach was evident last month when a large Chinese agriculture enterprise announced an expansion of its fishing operations around Antarctica to catch more krill — small, protein-rich crustaceans that are abundant in Antarctic waters.

“The Antarctic is a treasure house for all human beings, and China should go there and share,” Liu Shenli, the chairman of the China National Agricultural Development Group, told China Daily, a state-owned newspaper. China would aim to fish up to two million tons of krill a year, he said, a substantial increase from what it currently harvests.

Because sovereignty over Antarctica is unclear, nations have sought to strengthen their claims over the ice-covered land by building research bases and naming geographic features. China’s fifth station will put it within reach of the six American facilities, and ahead of Australia’s three.

Chinese mappers have also given Chinese names to more than 300 sites, compared with the thousands of locations on the continent with English names.

In the unspoken competition for Antarctica’s future, scientific achievement can also translate into influence. Chinese scientists are driving to be the first to drill and recover an ice core containing tiny air bubbles that provide a record of climate change stretching as far back as 1.5 million years. It is an expensive and delicate effort at which others, including the European Union and Australia, have failed.

In a breakthrough a decade ago, European scientists extracted an ice core nearly two miles long that revealed 800,000 years of climate history. But finding an ice core going back further would allow scientists to examine a change in the earth’s climate cycles believed to have occurred 900,000 to 1.2 million years ago.

China is betting it has found the best location to drill, at an area called Dome A, or Dome Argus, the highest point on the East Antarctic Ice Sheet. Though it is considered one of the coldest places on the planet, with temperatures of 130 degrees below zero Fahrenheit, a Chinese expedition explored the area in 2005 and established a research station in 2009.

“The international community has drilled in lots of places, but no luck so far,” said Xiao Cunde, a member of the first party to reach the site and the deputy director of the Institute for Climate Change at the Chinese Academy of Meteorological Sciences. “We think at Dome A we will have a straight shot at the one-million-year ice core.”

Mr. Xiao said China had already begun drilling and hoped to find what scientists are looking for in four to five years.

To support its Antarctic aspirations, China is building a sophisticated $300 million icebreaker that is expected to be ready in a few years, said Xia Limin, deputy director of the Chinese Arctic and Antarctic Administration in Beijing. It has also bought a high-tech fixed-wing aircraft, outfitted in the United States, for taking sensitive scientific soundings from the ice.

China has chosen the site for its fifth research station at Inexpressible Island, named by a group of British explorers who were stranded at the desolate site in 1912 and survived the winter by excavating a small ice cave.

Mr. Xia said the inhospitable spot was ideal because China did not have a presence in that part of Antarctica, and because the rocky site did not have much snow, making it relatively cheap to build there.

Anne-Marie Brady, a professor of political science at the University of Canterbury in New Zealand and the author of a soon-to-be-released book, “China as a Polar Great Power,” said Chinese scientists also believed they had a good chance of finding mineral and energy resources near the site.

“China is playing a long game in Antarctica and keeping other states guessing about its true intentions and interests are part of its poker hand,” she said. But she noted that China’s interest in finding minerals was presented “loud and clear to domestic audiences” as the main reason it was investing in Antarctica.

Because commercial drilling is banned, estimates of energy and mineral resources in Antarctica rely on remote sensing data and comparisons with similar geological environments elsewhere, said Millard F. Coffin, executive director of the Institute for Marine and Antarctic Studies in Hobart.

But the difficulty of extraction in such severe conditions and uncertainty about future commodity prices make it unlikely that China or any country would defy the ban on mining anytime soon.

Tourism, however, is already booming. Travelers from China are still a relatively small contingent in the Antarctic compared with the more than 13,000 Americans who visited in 2013, and as yet there are no licensed Chinese tour operators.

But that is about to change, said Anthony Bergin, deputy director of the Australian Strategic Policy Institute. “I understand very soon there will be Chinese tourists on Chinese vessels with all-Chinese crew in the Antarctic,” he said.

 

BALTIMORE — In the afternoons, the streets of Locust Point are clean and nearly silent. In front of the rowhouses, potted plants rest next to steps of brick or concrete. There is a shopping center nearby with restaurants, and a grocery store filled with fresh foods.

And the National Guard and the police are largely absent. So, too, residents say, are worries about what happened a few miles away on April 27 when, in a space of hours, parts of this city became riot zones.

“They’re not our reality,” Ashley Fowler, 30, said on Monday at the restaurant where she works. “They’re not what we’re living right now. We live in, not to be racist, white America.”

As Baltimore considers its way forward after the violent unrest brought by the death of Freddie Gray, a 25-year-old black man who died of injuries he suffered while in police custody, residents in its predominantly white neighborhoods acknowledge that they are sometimes struggling to understand what beyond Mr. Gray’s death spurred the turmoil here. For many, the poverty and troubled schools of gritty West Baltimore are distant troubles, glimpsed only when they pass through the area on their way somewhere else.

Photo
 
Officers blocked traffic at Pennsylvania and West North Avenues after reports that a gun was discharged in the area. Credit Drew Angerer for The New York Times

And so neighborhoods of Baltimore are facing altogether different reckonings after Mr. Gray’s death. In mostly black communities like Sandtown-Winchester, where some of the most destructive rioting played out last week, residents are hoping businesses will reopen and that the police will change their strategies. But in mostly white areas like Canton and Locust Point, some residents wonder what role, if any, they should play in reimagining stretches of Baltimore where they do not live.

“Most of the people are kind of at a loss as to what they’re supposed to do,” said Dr. Richard Lamb, a dentist who has practiced in the same Locust Point office for nearly 39 years. “I listen to the news reports. I listen to the clergymen. I listen to the facts of the rampant unemployment and the lack of opportunities in the area. Listen, I pay my taxes. Exactly what can I do?”

And in Canton, where the restaurants have clever names like Nacho Mama’s and Holy Crepe Bakery and Café, Sara Bahr said solutions seemed out of reach for a proudly liberal city.

“I can only imagine how frustrated they must be,” said Ms. Bahr, 36, a nurse who was out with her 3-year-old daughter, Sally. “I just wish I knew how to solve poverty. I don’t know what to do to make it better.”

The day of unrest and the overwhelmingly peaceful demonstrations that followed led to hundreds of arrests, often for violations of the curfew imposed on the city for five consecutive nights while National Guard soldiers patrolled the streets. Although there were isolated instances of trouble in Canton, the neighborhood association said on its website, many parts of southeast Baltimore were physically untouched by the tumult.

Tensions in the city bubbled anew on Monday after reports that the police had wounded a black man in Northwest Baltimore. The authorities denied those reports and sent officers to talk with the crowds that gathered while other officers clutching shields blocked traffic at Pennsylvania and West North Avenues.

Lt. Col. Melvin Russell, a community police officer, said officers had stopped a man suspected of carrying a handgun and that “one of those rounds was spent.”

Colonel Russell said officers had not opened fire, “so we couldn’t have shot him.”

Photo
 
Lambi Vasilakopoulos, right, who runs a casual restaurant in Canton, said he was incensed by last week's looting and predicted tensions would worsen. Credit Drew Angerer for The New York Times

The colonel said the man had not been injured but was taken to a hospital as a precaution. Nearby, many people stood in disbelief, despite the efforts by the authorities to quash reports they described as “unfounded.”

Monday’s episode was a brief moment in a larger drama that has yielded anger and confusion. Although many people said they were familiar with accounts of the police harassing or intimidating residents, many in Canton and Locust Point said they had never experienced it themselves. When they watched the unrest, which many protesters said was fueled by feelings that they lived only on Baltimore’s margins, even those like Ms. Bahr who were pained by what they saw said they could scarcely comprehend the emotions associated with it.

But others, like Lambi Vasilakopoulos, who runs a casual restaurant in Canton, said they were incensed by what unfolded last week.

“What happened wasn’t called for. Protests are one thing; looting is another thing,” he said, adding, “We’re very frustrated because we’re the ones who are going to pay for this.”

There were pockets of optimism, though, that Baltimore would enter a period of reconciliation.

“I’m just hoping for peace,” Natalie Boies, 53, said in front of the Locust Point home where she has lived for 50 years. “Learn to love each other; be patient with each other; find justice; and care.”

A skeptical Mr. Vasilakopoulos predicted tensions would worsen.

“It cannot be fixed,” he said. “It’s going to get worse. Why? Because people don’t obey the laws. They don’t want to obey them.”

But there were few fears that the violence that plagued West Baltimore last week would play out on these relaxed streets. The authorities, Ms. Fowler said, would make sure of that.

“They kept us safe here,” she said. “I didn’t feel uncomfortable when I was in my house three blocks away from here. I knew I was going to be O.K. because I knew they weren’t going to let anyone come and loot our properties or our businesses or burn our cars.”

Over the last five years or so, it seemed there was little that Dean G. Skelos, the majority leader of the New York Senate, would not do for his son.

He pressed a powerful real estate executive to provide commissions to his son, a 32-year-old title insurance salesman, according to a federal criminal complaint. He helped get him a job at an environmental company and employed his influence to help the company get government work. He used his office to push natural gas drilling regulations that would have increased his son’s commissions.

He even tried to direct part of a $5.4 billion state budget windfall to fund government contracts that the company was seeking. And when the company was close to securing a storm-water contract from Nassau County, the senator, through an intermediary, pressured the company to pay his son more — or risk having the senator subvert the bid.

The criminal complaint, unsealed on Monday, lays out corruption charges against Senator Skelos and his son, Adam B. Skelos, the latest scandal to seize Albany, and potentially alter its power structure.

Photo
 
Preet Bharara, the United States attorney in Manhattan, discussed the case involving Dean G. Skelos and his son, Adam. Credit Eduardo Munoz/Reuters

The repeated and diverse efforts by Senator Skelos, a Long Island Republican, to use what prosecutors said was his political influence to find work, or at least income, for his son could send both men to federal prison. If they are convicted of all six charges against them, they face up to 20 years in prison for each of four of the six counts and up to 10 years for the remaining two.

Senator Kenneth P. LaValle, of Long Island, who serves as chairman of the Republican conference, emerged from a closed-door meeting Monday night to say that conference members agreed that Mr. Skelos should be benefited the “presumption of innocence,” and would stay in his leadership role.

“The leader has indicated he would like to remain as leader,” said Mr. LaValle, “and he has the support of the conference.” The case against Mr. Skelos and his son grew out of a broader inquiry into political corruption by the United States attorney for the Southern District of New York, Preet Bharara, that has already changed the face of the state capital. It is based in part, according to the six-count complaint, on conversations secretly recorded by one of two cooperating witnesses, and wiretaps on the cellphones of the senator and his son. Those recordings revealed that both men were concerned about electronic surveillance, and illustrated the son’s unsuccessful efforts to thwart it.

Advertisement

Adam Skelos took to using a “burner” phone, the complaint says, and told his father he wanted them to speak through a FaceTime video call in an apparent effort to avoid detection. They also used coded language at times.

At one point, Adam Skelos was recorded telling a Senate staff member of his frustration in not being able to speak openly to his father on the phone, noting that he could not “just send smoke signals or a little pigeon” carrying a message.

The 43-page complaint, sworn out by Paul M. Takla, a special agent for the Federal Bureau of Investigation, outlines a five-year scheme to “monetize” the senator’s official position; it also lays bare the extent to which a father sought to use his position to help his son.

The charges accuse the two men of extorting payments through a real estate developer, Glenwood Management, based on Long Island, and the environmental company, AbTech Industries, in Scottsdale, Ariz., with the expectation that the money paid to Adam Skelos — nearly $220,000 in total — would influence his father’s actions.

Glenwood, one of the state’s most prolific campaign donors, had ties to AbTech through investments in the environmental firm’s parent company by Glenwood’s founding family and a senior executive.

The accusations in the complaint portray Senator Skelos as a man who, when it came to his son, was not shy about twisting arms, even in situations that might give other arm-twisters pause.

Seeking to help his son, Senator Skelos turned to the executive at Glenwood, which develops rental apartments in New York City and has much at stake when it comes to real estate legislation in Albany. The senator urged him to direct business to his son, who sold title insurance.

After much prodding, the executive, Charles C. Dorego, engineered a $20,000 payment to Adam Skelos from a title insurance company even though he did no work for the money. But far more lucrative was a consultant position that Mr. Dorego arranged for Adam Skelos at AbTech, which seeks government contracts to treat storm water. (Mr. Dorego is not identified by name in the complaint, but referred to only as CW-1, for Cooperating Witness 1.)

Senator Skelos appeared to take an active interest in his son’s new line of work. Adam Skelos sent him several drafts of his consulting agreement with AbTech, the complaint says, as well as the final deal that was struck.

“Mazel tov,” his father replied.

Senator Skelos sent relevant news articles to his son, including one about a sewage leak near Albany. When AbTech wanted to seek government contracts after Hurricane Sandy, the senator got on a conference call with his son and an AbTech executive, Bjornulf White, and offered advice. (Like Mr. Dorego, Mr. White is not named in the complaint, but referred to as CW-2.)

The assistance paid off: With the senator’s help, AbTech secured a contract worth up to $12 million from Nassau County, a big break for a struggling small business.

But the money was slow to materialize. The senator expressed impatience with county officials.

Adam Skelos, in a phone call with Mr. White in late December, suggested that his father would seek to punish the county. “I tell you this, the state is not going to do a [expletive] thing for the county,” he said.

Three days later, Senator Skelos pressed his case with the Nassau County executive, Edward P. Mangano, a fellow Republican. “Somebody feels like they’re just getting jerked around the last two years,” the senator said, referring to his son in what the complaint described as “coded language.”

The next day, the senator pursued the matter, as he and Mr. Mangano attended a wake for a slain New York City police officer. Senator Skelos then reassured his son, who called him while he was still at the wake. “All claims that are in will be taken care of,” the senator said.

AbTech’s fortunes appeared to weigh on his son. At one point in January, Adam Skelos told his father that if the company did not succeed, he would “lose the ability to pay for things.”

Making matters worse, in recent months, Senator Skelos and his son appeared to grow wary about who was watching them. In addition to making calls on the burner phone, Adam Skelos said he used the FaceTime video calling “because that doesn’t show up on the phone bill,” as he told Mr. White.

In late February, Adam Skelos arranged a pair of meetings between Mr. White and state senators; AbTech needed to win state legislation that would allow its contract to move beyond its initial stages. But Senator Skelos deemed the plan too risky and caused one of the meetings to be canceled.

In another recorded call, Adam Skelos, promising to be “very, very vague” on the phone, urged his father to allow the meeting. The senator offered a warning. “Right now we are in dangerous times, Adam,” he told him.

A month later, in another phone call that was recorded by the authorities, Adam Skelos complained that his father could not give him “real advice” about AbTech while the two men were speaking over the telephone.

“You can’t talk normally,” he told his father, “because it’s like [expletive] Preet Bharara is listening to every [expletive] phone call. It’s just [expletive] frustrating.”

“It is,” his father agreed.

A former member of the Boston Symphony Orchestra, Mr. Smedvig helped found the wide-ranging Empire Brass quintet.

Mr. Mankiewicz, an Oscar-nominated screenwriter for “I Want to Live!,” also wrote episodes of television shows such as “Star Trek” and “Marcus Welby, M.D.”