Jual Rumah Bagus 2016 Murah

Jual Rumah Bagus 2016 Murah RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL). Jual Rumah Bagus 2016 Murah

Jual Rumah Bagus 2016 Murah

Cari Rumah Bagus 2016 Murah

Cari Rumah Bagus 2016 Murah RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL). Cari Rumah Bagus 2016 Murah

Cari Rumah Bagus 2016 Murah

Tipe Rumah Mewah 2016 Murah

Tipe Rumah Mewah 2016 Murah RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL). Tipe Rumah Mewah 2016 Murah

Tipe Rumah Mewah 2016 Murah

Tempat Rumah Mewah 2016 Murah

Tempat Rumah Mewah 2016 Murah RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL). Tempat Rumah Mewah 2016 Murah

Tempat Rumah Mewah 2016 Murah

Harga Rumah Mewah 2016 Murah

Harga Rumah Mewah 2016 Murah RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL). Harga Rumah Mewah 2016 Murah

Harga Rumah Mewah 2016 Murah

Jual Rumah Mewah 2016 Murah

Jual Rumah Mewah 2016 Murah RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL). Jual Rumah Mewah 2016 Murah

Jual Rumah Mewah 2016 Murah

Cari Rumah Mewah 2016 Murah

Cari Rumah Mewah 2016 Murah RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL). Cari Rumah Mewah 2016 Murah

Cari Rumah Mewah 2016 Murah

Tipe Rumah Indah 2016 Murah

Tipe Rumah Indah 2016 Murah RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL). Tipe Rumah Indah 2016 Murah

Tipe Rumah Indah 2016 Murah

Tempat Rumah Indah 2016 Murah

Tempat Rumah Indah 2016 Murah RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL). Tempat Rumah Indah 2016 Murah

Tempat Rumah Indah 2016 Murah

saco-indonesia.com, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono tidak sepakat dengan warga Pondok Indah yang menganggap busway Koridor VIII (Lebak Bulus-Harmoni)

JAKARTA, Saco- Indoensia.com — Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono tidak sepakat dengan warga Pondok Indah yang menganggap busway Koridor VIII (Lebak Bulus-Harmoni) tidak efektif melintas di kawasan elite tersebut. Menurutnya, tidak ada alasan jalur Koridor VIII dipindah.

"Pondok Indah adalah jalan utama. Ada rumah sakit dan pertokoan. Jadi, untuk angkutan massal cocok karena penumpangnya banyak. Bangun angkutan massal kan bukan sekadarnya, tapi yang memang penumpangnya banyak," kata Udar saat ditemui di Mapolsek Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (3/6/2013).

Udar mengatakan bahwa luas Jalan Metro Pondok Indah sudah memenuhi kriteria untuk dibangun jalur busway dibanding harus dipindahkan ke jalan di kawasan Pondok Pinang, seperti usulan warga Pondok Indah.

"Geometrik jalan (Pondok Indah) mendukung, kalau dialihkan ke Pondok Pinang kan jalannya sempit," jelas Udar.

Untuk diketahui, sejumlah warga Pondok Indah yang tergabung dalam Panca RW melakukan musyawarah di Taman Puspita, Pondok Indah, Jakarta Selatan, pada Minggu (2/6/2013). Mereka menyampaikan permintaan agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memindahkan jalur bus transjakarta dari Jalan Metro Pondok Indah.

Menurut mereka, keberadaan busway di Jalan Metro Pondok Indah kurang begitu diminati masyarakat. Hal tersebut dapat terlihat dari jarangnya orang yang menumpang bus transjakarta dan untuk halte- halte bus transjakarta pun sering kali terlihat sepi.

Selain itu, kata warga, keberadaan jalur busway yang ada sejak tahun 2009 itu justru membuat Jalan Metro Pondok Indah semakin bertambah macet.

 

Editor :Liwon Maulana

Sumber:Kompas.com

saco-indonesia.com, Manusia Mendapatkan Sesuatu Dari Manusia Lain, Manusia Melepaskan Sesuatu Untuk Mannusia Lain, Manusia Menjadi Manusia Karen

saco-indonesia.com,
Manusia Mendapatkan Sesuatu Dari Manusia Lain,
Manusia Melepaskan Sesuatu Untuk Mannusia Lain,
Manusia Menjadi Manusia Karena Manusia Lain,
Bahkan Manusia Bisa Menjadi Manusia Kembali Karena Manusia Lain

 

saco-indonesia.com, Striker AS Roma yang langsung dapat menemukan ketajamannya usai lepas dari belenggu cedera, Mattia Destro, t

saco-indonesia.com, Striker AS Roma yang langsung dapat menemukan ketajamannya usai lepas dari belenggu cedera, Mattia Destro, telah menyimpan sebuah impian besar. Dia juga ingin memperkuat Italia di Piala Dunia 2014.

Destro yang berusia 22 tahun , memang sudah absen cukup lama akibat cedera lutut yang telah dialaminya Januari silam. Pulih, dia pun juga kembali ke skuat Roma. Konstribusi signifikan langsung telah diberikannya untuk Giallorossi, yakni mencetak masing-masing satu gol dalam dua laga terkini di Serie A 2013/13 melawan Fiorentina (menang 2-1) dan AC Milan (2-2).

Dua gol tersebut adalah dua gol perdana Destro musim ini. Harapan untuk telah memperkuat Azzurri di Brasil 2014 pun dia utarakan.

"Saya harus terlebih dahulu untuk memulihkan form terbaik saya. Semua ada tahapannya," kata Destro kepada La Gazzetta dello Sport.

"Menjadi bagian lini serang Italia di Piala Dunia bersama Mario Balotelli dan Giuseppe Rossi adalah impian saya saat ini," ujarnya.

Kalau impian tersebut terwujud, Destro pasti bisa melupakan memori pahit gagal masuk skuat Italia untuk Euro 2012 di Polandia-Ukraina.


Editor : Dian Sukmawati

Saco-Indonesia.com — Meskipun lebih ringan daripada tahun-tahun sebelumnya, cuaca ekstrem pada tahun 2013 dan 2014 tampaknya benar-benar perlu diwaspadai.

Saco-Indonesia.com — Meskipun lebih ringan daripada tahun-tahun sebelumnya, cuaca ekstrem pada tahun 2013 dan 2014 tampaknya benar-benar perlu diwaspadai. Fenomena buruknya cuaca semakin mengkhawatirkan sehingga para ahli mengatakan bahwa mungkin tren yang berkembang ke depan adalah desain rumah-rumah berbentuk kubah.

Desain rumah kubah, seperti yang digambarkan kontributor CNBC Linda Federico-O'Murchu, sebagai sesuatu "sederhana tetapi cara cerdik", sangat menguntungkan pemilik rumah karena bisa meminimalkan kerentanan mereka terhadap bencana alam, seperti badai, gempa bumi, dan tsunami.

Florida "Hurricane Alley", misalnya, adalah contoh rumah berkonsep kubah. Saking lengkapnya dipersiapkan menahan bencana, rumah ini dijuluki "The Super Dome".

"Bentuk seimbang dari model kubah benar-benar kokoh dan kuat untuk menahan kekuatan tornado EF5, badai raksasa, atau gempa besar," tulis Federico-O'Murchu.

"Dome yang terbuat dari beton dapat membelokkan runtuhan bangunan dan puing-puing terbang, bahkan pohon udara dan mobil. Plus, atap tidak akan hancur berantakan," katanya.

Sumber :www.huffingtonpost.com/kompas.com
Editor : Mulana Lee

saco-indonesia.com, Kubis adalah jenis sayuran yang paling mudah ditemui. Banyak masakan berbahan sayuran yang telah memasukkan

saco-indonesia.com, Kubis adalah jenis sayuran yang paling mudah ditemui. Banyak masakan berbahan sayuran yang telah memasukkan kubis di dalamnya. kubis juga kaya akan vitamin C yang sangat baik untuk dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Selain manfaat tersebut, berikut adalah manfaat lain dari mengonsumsi kubis secara rutin bagi kesehatan :

Menurunkan berat badan
Setiap satu takaran saji kubis telah mengandung 33 kalori. Oleh karena itu kubis baik untuk dapat menurunkan berat badan.

Baik untuk kesehatan otak
Kubis juga kaya akan vitamin K dan anthocyanins yang dapat menyehatkan kondisi otak dan meningkatkan daya konsentrasi. Nutrisi ini juga dapat mencegah kerusakan saraf dan mengurangi resiko penyakit alzheimer.

Mempercantik kulit
Kandungan sulfur yang ada di dalam kubis baik untuk dapat membantu mengeringkan jerawat. Kubis juga telah mengandung keratin, zat protein yang diperlukan untuk dapat meningkatkan kesehatan rambut, kuku, dan kulit.

Membantu detoksifikasi tubuh
Tingginya kandungan vitamin C dan belerang di dalam kubis mampu untuk menghilangkan racun yang telah menjadi penyebab utama dari arthtiris, penyakit kulit, rematik, dan asam urat.

Mencegah kanker
Kubis juga mengandung senyawa lupeol, sinigrin, dan sulforaphane yang mampu untuk menghambat pertumbuhan tumor dan kanker. Sebuah penelitian telah menunjukkan bahwa wanita yang rajin mengonsumsi kubis akan memiliki resiko yang kecil untuk terkena kanker payudara.

Baik untuk kesehatan darah
Kandungan potasium yang tinggi membantu untuk dapat memperlebar aliran darah sehingga baik untuk sirkulasi darah.

Mengobati sakit kepala
Ternyata daun kubis juga dapat digunakan sebagai obat herbal untuk sakit kepala. Caranya adalah hancurkan daun kubis, bungkus dalam kain, dan oleskan sarinya di dahi Anda.

Kubis ternyata telah menyimpan banyak manfaat penting untuk kesehatan Anda. Oleh karena itu jangan ragu untuk dapat menambahkan kubis ke dalam menu makanan sehat Anda.


Editor : Dian Sukmawati

saco-indonesia.com, Ratusan murid SDN I Sangkanwangi, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, terpaksa harus melaksanakan

saco-indonesia.com, Ratusan murid SDN I Sangkanwangi, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, terpaksa harus melaksanakan kegiatan belajar mengajar di dalam tenda. Sebabnya, dua ruangan kelas rubuh akibat hujan deras yang melanda daerah itu.

Selama ini proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di tempat darurat dengan mendirikan tenda milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak.

"Kami juga berharap ruangan kelas yang rubuh itu akan segera diperbaiki," kata Kepala SDN 1 Sangkanwangi, Kabupaten Lebak Abdul Muti di Lebak, Senin (27/1).

Pelaksanaan KBM telah berjalan dengan baik dan tidak ada hambatan, meskipun dua ruangan kelas 3-4 roboh akibat diterjang angin kencang. Meskipun kondisinya juga kurang nyaman dengan beralasan tanah, tetapi semangat anak-anak belajar juga cukup besar.

Abdul Muti juga menambahkan, pihaknya juga telah melaporkan dua ruangan kelas yang roboh itu kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak. "Kami juga berharap tahun ini juga dilakukan perbaikan sehingga anak-anak bisa belajar dengan tenang serta konsentrasi," ujarnya.

Sementara itu, Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya juga mengatakan pihaknya telah berjanji akan membangun dua ruangan kelas SD Negeri 1 Sangkanwangi, Kecamatan Leuwidamar yang roboh itu.

"Kami juga akan mengalokasikan pembangunan sekolah itu dari anggaran Biaya Tak Terduga (BTT)," katanya.

Ia juga telah menyebutkan saat ini proses KBM di tenda tentunya tidak optimal sehingga berdampak terhadap mutu pendidikan. Apalagi, beberapa bulan ke depan atau sekitar bulan Mei mendatang para murid juga akan melaksanakan ujian.

Pihaknya juga telah memerintahkan tim teknis dari Dinas Cipta Karya segera turun ke lokasi melakukan monitoring guna untuk mengetahui apakah lokasi sekolah itu aman jika dibangun kembali atau tidak.

"Kalau menurut tim teknis itu layak maka pembangunannya akan segera dilakukan dengan anggaran dari BTT itu," katanya.


Editor : Dian Sukmawati

Sesuai jadwal kampanye yang telah dikeluarkan oleh KPUD Manado, Partai Demokrat (PD) seharusnya melakukan kampanye terbuka untuk dapat menggalang massa pemilu pada Senin (17/3). Namun beberapa Caleg partai berlambang segitiga mercy ini malah terlihat di acara kawin massal yang telah digelar oleh Pemkot Manado.

Sesuai jadwal kampanye yang telah dikeluarkan oleh KPUD Manado, Partai Demokrat (PD) seharusnya melakukan kampanye terbuka untuk dapat menggalang massa pemilu pada Senin (17/3). Namun beberapa Caleg partai berlambang segitiga mercy ini malah terlihat di acara kawin massal yang telah digelar oleh Pemkot Manado.

Dua caleg Partai Demokrat , Jackson Kumaat untuk DPR-RI dan Stella Pakaya untuk DPRD Kota Manado, bahkan telah menjadi saksi pada acara nikah massal itu. Ritual religius tersebut pun mengeluarkan 'aroma' politik.

Salah seorang Panwaslu Manado, Issac Yusuf kepada sejumlah wartawan menyatakan bahwa sesuai jadwal, seharusnya PD telah melakukan kampanye terbuka Senin kemarin.

"Sayang waktu yang disediakan tidak dimanfaatkan dengan baik," ucap Issac Yusuf.

Terkait adanya dugaan pelanggaran yang terjadi dalam acara nikah massal yang mempersatukan 33 pasang pengantin ini, dirinya juga mengatakan masih akan dibicarakan dalam internal Panwas.

"Untuk hal tersebut masih akan kami bicarakan dalam rapat," ujar Issac.

Wali kota Manado Vecky Lumentut menepis jika acara yang digelar Pemkot ini telah dikaitkan dengan agenda partai meski atribut dan nuansa biru khas PD terlihat digunakan beberapa Caleg.

"Acara ini bukan acara partai, jadi setiap orang berhak datang di sini jika mengetahuinya," tegas Lumentut yang juga Ketua Partai Demokrat Sulut kepada wartawan.

Sebagian orang telah beranggapan bahwa mengecat dinding rumah adalah pekerjaan yang mudah, akan tetapi ternyata mengecat rumah a

Sebagian orang telah beranggapan bahwa mengecat dinding rumah adalah pekerjaan yang mudah, akan tetapi ternyata mengecat rumah ada tehnik tersendiri untuk bisa mendapatkan hasil pengecatan yang maksimal.

Perhatikan hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses pengecatan rumah.

Pertama kali, pentingnya untuk bisa mengetahui apakah perlu atau tidaknya tembok disekrap, langkah yang harus dilakukan, kuaskan air pada permukaan dan tunggu sampai beberapa saat. Jika permukaan tampak gelembung-gelembung, maka tembok harus disekrap.

Bersihkan permukaan tembok yang akan di cat sebelumnya dengan menggunakan air hangat kemudian tunggu hingga

kering sebelum anda melakukan proses pengecatan rumah.

Untuk bisa menghemat cat dan menutup pori-pori dinding disarankan menggunakan plamir. Setelah tembok atau bagian yang akan di cat telah kering, mulailah mengecat dengan plamir, tunggu sampai kering dan cat

dengan dasar cat (putih) dan tunggu sampai kering.

Untuk anda yang belum mempunyai teknik pengecatan, anda juga dapat mempraktekan teknik-teknik pengecatan di tahap ini. Karena baik atau jelek hasil anda, tidak akan kelihatan pada akhir pengecatan.

 

saco-indonesia.com, Si jago merah telah mengamuk di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Sebanyak 10 mobil pemadam kebakaran telah di

saco-indonesia.com, Si jago merah telah mengamuk di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Sebanyak 10 mobil pemadam kebakaran telah di terjunkan ke lokasi kejadian.

Petugas Pemadam Kebakaran Jakarta Pusat Poniman juga mengatakan, kebakaran telah terjadi sekitar pukul 09.10 WIB. Poniman juga mengaku belum dapat mengetahui penyebab dari kebakaran ini.

"Api berasal dari sebuah restoran yang terbakar," kata Poniman, Jumat (27/12).

Saat ini petugas juga masih terus berjibaku untuk dapat memadamkan api yang terus berkobar. Belum dapat diketahui apakah ada korban dalam kejadian ini.


Editor : Dian Sukmawati

A 2-minute-42-second demo recording captured in one take turned out to be a one-hit wonder for Mr. Ely, who was 19 when he sang the garage-band classic.

Even as a high school student, Dave Goldberg was urging female classmates to speak up. As a young dot-com executive, he had one girlfriend after another, but fell hard for a driven friend named Sheryl Sandberg, pining after her for years. After they wed, Mr. Goldberg pushed her to negotiate hard for high compensation and arranged his schedule so that he could be home with their children when she was traveling for work.

Mr. Goldberg, who died unexpectedly on Friday, was a genial, 47-year-old Silicon Valley entrepreneur who built his latest company, SurveyMonkey, from a modest enterprise to one recently valued by investors at $2 billion. But he was also perhaps the signature male feminist of his era: the first major chief executive in memory to spur his wife to become as successful in business as he was, and an essential figure in “Lean In,” Ms. Sandberg’s blockbuster guide to female achievement.

Over the weekend, even strangers were shocked at his death, both because of his relatively young age and because they knew of him as the living, breathing, car-pooling center of a new philosophy of two-career marriage.

“They were very much the role models for what this next generation wants to grapple with,” said Debora L. Spar, the president of Barnard College. In a 2011 commencement speech there, Ms. Sandberg told the graduates that whom they married would be their most important career decision.

In the play “The Heidi Chronicles,” revived on Broadway this spring, a male character who is the founder of a media company says that “I don’t want to come home to an A-plus,” explaining that his ambitions require him to marry an unthreatening helpmeet. Mr. Goldberg grew up to hold the opposite view, starting with his upbringing in progressive Minneapolis circles where “there was woman power in every aspect of our lives,” Jeffrey Dachis, a childhood friend, said in an interview.

The Goldberg parents read “The Feminine Mystique” together — in fact, Mr. Goldberg’s father introduced it to his wife, according to Ms. Sandberg’s book. In 1976, Paula Goldberg helped found a nonprofit to aid children with disabilities. Her husband, Mel, a law professor who taught at night, made the family breakfast at home.

Later, when Dave Goldberg was in high school and his prom date, Jill Chessen, stayed silent in a politics class, he chastised her afterward. He said, “You need to speak up,” Ms. Chessen recalled in an interview. “They need to hear your voice.”

Years later, when Karin Gilford, an early employee at Launch Media, Mr. Goldberg’s digital music company, became a mother, he knew exactly what to do. He kept giving her challenging assignments, she recalled, but also let her work from home one day a week. After Yahoo acquired Launch, Mr. Goldberg became known for distributing roses to all the women in the office on Valentine’s Day.

Ms. Sandberg, who often describes herself as bossy-in-a-good-way, enchanted him when they became friendly in the mid-1990s. He “was smitten with her,” Ms. Chessen remembered. Ms. Sandberg was dating someone else, but Mr. Goldberg still hung around, even helping her and her then-boyfriend move, recalled Bob Roback, a friend and co-founder of Launch. When they finally married in 2004, friends remember thinking how similar the two were, and that the qualities that might have made Ms. Sandberg intimidating to some men drew Mr. Goldberg to her even more.

Over the next decade, Mr. Goldberg and Ms. Sandberg pioneered new ways of capturing information online, had a son and then a daughter, became immensely wealthy, and hashed out their who-does-what-in-this-marriage issues. Mr. Goldberg’s commute from the Bay Area to Los Angeles became a strain, so he relocated, later joking that he “lost the coin flip” of where they would live. He paid the bills, she planned the birthday parties, and both often left their offices at 5:30 so they could eat dinner with their children before resuming work afterward.

Friends in Silicon Valley say they were careful to conduct their careers separately, politely refusing when outsiders would ask one about the other’s work: Ms. Sandberg’s role building Facebook into an information and advertising powerhouse, and Mr. Goldberg at SurveyMonkey, which made polling faster and cheaper. But privately, their work was intertwined. He often began statements to his team with the phrase “Well, Sheryl said” sharing her business advice. He counseled her, too, starting with her salary negotiations with Mark Zuckerberg.

“I wanted Mark to really feel he stretched to get Sheryl, because she was worth it,” Mr. Goldberg explained in a 2013 “60 Minutes” interview, his Minnesota accent and his smile intact as he offered a rare peek of the intersection of marriage and money at the top of corporate life.

 

 

While his wife grew increasingly outspoken about women’s advancement, Mr. Goldberg quietly advised the men in the office on family and partnership matters, an associate said. Six out of 16 members of SurveyMonkey’s management team are female, an almost unheard-of ratio among Silicon Valley “unicorns,” or companies valued at over $1 billion.

When Mellody Hobson, a friend and finance executive, wrote a chapter of “Lean In” about women of color for the college edition of the book, Mr. Goldberg gave her feedback on the draft, a clue to his deep involvement. He joked with Ms. Hobson that she was too long-winded, like Ms. Sandberg, but aside from that, he said he loved the chapter, she said in an interview.

By then, Mr. Goldberg was a figure of fascination who inspired a “where can I get one of those?” reaction among many of the women who had read the best seller “Lean In.” Some lamented that Ms. Sandberg’s advice hinged too much on marrying a Dave Goldberg, who was humble enough to plan around his wife, attentive enough to worry about which shoes his young daughter would wear, and rich enough to help pay for the help that made the family’s balancing act manageable.

Now that he is gone, and Ms. Sandberg goes from being half of a celebrated partnership to perhaps the business world’s most prominent single mother, the pages of “Lean In” carry a new sting of loss.

“We are never at 50-50 at any given moment — perfect equality is hard to define or sustain — but we allow the pendulum to swing back and forth between us,” she wrote in 2013, adding that they were looking forward to raising teenagers together.

“Fortunately, I have Dave to figure it out with me,” she wrote.

Mr. Haroche was a founder of Liberty Travel, which grew from a two-man operation to the largest leisure travel operation in the United States.

The bottle Mr. Sokolin famously broke was a 1787 Château Margaux, which was said to have belonged to Thomas Jefferson. Mr. Sokolin had been hoping to sell it for $519,750.

Mr. Goldberg was a serial Silicon Valley entrepreneur and venture capitalist who was married to Sheryl Sandberg, the chief operating officer of Facebook.

Dave Goldberg Was Lifelong Women’s Advocate

At the National Institutes of Health, Dr. Suzman’s signature accomplishment was the central role he played in creating a global network of surveys on aging.

Pronovost, who played for the Red Wings, was not a prolific scorer, but he was a consummate team player with bruising checks and fearless bursts up the ice that could puncture a defense.

Mr. Bartoszewski was given honorary Israeli citizenship for his work to save Jews during World War II and later surprised even himself by being instrumental in reconciling Poland and Germany.

Photo
 
United’s first-class and business fliers get Rhapsody, its high-minded in-flight magazine, seen here at its office in Brooklyn. Credit Sam Hodgson for The New York Times

Last summer at a writers’ workshop in Oregon, the novelists Anthony Doerr, Karen Russell and Elissa Schappell were chatting over cocktails when they realized they had all published work in the same magazine. It wasn’t one of the usual literary outlets, like Tin House, The Paris Review or The New Yorker. It was Rhapsody, an in-flight magazine for United Airlines.

It seemed like a weird coincidence. Then again, considering Rhapsody’s growing roster of A-list fiction writers, maybe not. Since its first issue hit plane cabins a year and a half ago, Rhapsody has published original works by literary stars like Joyce Carol Oates, Rick Moody, Amy Bloom, Emma Straub and Mr. Doerr, who won the Pulitzer Prize for fiction two weeks ago.

As airlines try to distinguish their high-end service with luxuries like private sleeping chambers, showers, butler service and meals from five-star chefs, United Airlines is offering a loftier, more cerebral amenity to its first-class and business-class passengers: elegant prose by prominent novelists. There are no airport maps or disheartening lists of in-flight meal and entertainment options in Rhapsody. Instead, the magazine has published ruminative first-person travel accounts, cultural dispatches and probing essays about flight by more than 30 literary fiction writers.

 

Photo
 
Sean Manning, executive editor of Rhapsody, which publishes works by the likes of Joyce Carol Oates, Amy Bloom and Anthony Doerr, who won a Pulitzer Prize. Credit Sam Hodgson for The New York Times

 

An airline might seem like an odd literary patron. But as publishers and writers look for new ways to reach readers in a shaky retail climate, many have formed corporate alliances with transit companies, including American Airlines, JetBlue and Amtrak, that provide a captive audience.

Mark Krolick, United Airlines’ managing director of marketing and product development, said the quality of the writing in Rhapsody brings a patina of sophistication to its first-class service, along with other opulent touches like mood lighting, soft music and a branded scent.

“The high-end leisure or business-class traveler has higher expectations, even in the entertainment we provide,” he said.

Advertisement

Some of Rhapsody’s contributing writers say they were lured by the promise of free airfare and luxury accommodations provided by United, as well as exposure to an elite audience of some two million first-class and business-class travelers.

“It’s not your normal Park Slope Community Bookstore types who read Rhapsody,” Mr. Moody, author of the 1994 novel “The Ice Storm,” who wrote an introspective, philosophical piece about traveling to the Aran Islands of Ireland for Rhapsody, said in an email. “I’m not sure I myself am in that Rhapsody demographic, but I would like them to buy my books one day.”

In addition to offering travel perks, the magazine pays well and gives writers freedom, within reason, to choose their subject matter and write with style. Certain genres of flight stories are off limits, naturally: no plane crashes or woeful tales of lost luggage or rude flight attendants, and nothing too risqué.

“We’re not going to have someone write about joining the mile-high club,” said Jordan Heller, the editor in chief of Rhapsody. “Despite those restrictions, we’ve managed to come up with a lot of high-minded literary content.”

Guiding writers toward the right idea occasionally requires some gentle prodding. When Rhapsody’s executive editor asked Ms. Russell to contribute an essay about a memorable flight experience, she first pitched a story about the time she was chaperoning a group of teenagers on a trip to Europe, and their delayed plane sat at the airport in New York for several hours while other passengers got progressively drunker.

“He pointed out that disaster flights are not what people want to read about when they’re in transit, and very diplomatically suggested that maybe people want to read something that casts air travel in a more positive light,” said Ms. Russell, whose novel “Swamplandia!” was a finalist for the 2012 Pulitzer Prize.

She turned in a nostalgia-tinged essay about her first flight on a trip to Disney World when she was 6. “The Magic Kingdom was an anticlimax,” she wrote. “What ride could compare to that first flight?”

Ms. Oates also wrote about her first flight, in a tiny yellow propeller plane piloted by her father. The novelist Joyce Maynard told of the constant disappointment of never seeing her books in airport bookstores and the thrill of finally spotting a fellow plane passenger reading her novel “Labor Day.” Emily St. John Mandel, who was a finalist for the National Book Award in fiction last year, wrote about agonizing over which books to bring on a long flight.

“There’s nobody that’s looked down their noses at us as an in-flight magazine,” said Sean Manning, the magazine’s executive editor. “As big as these people are in the literary world, there’s still this untapped audience for them of luxury travelers.”

United is one of a handful of companies showcasing work by literary writers as a way to elevate their brands and engage customers. Chipotle has printed original work from writers like Toni Morrison, Jeffrey Eugenides and Barbara Kingsolver on its disposable cups and paper bags. The eyeglass company Warby Parker hosts parties for authors and sells books from 14 independent publishers in its stores.

JetBlue offers around 40 e-books from HarperCollins and Penguin Random House on its free wireless network, allowing passengers to read free samples and buy and download books. JetBlue will start offering 11 digital titles from Simon & Schuster soon. Amtrak recently forged an alliance with Penguin Random House to provide free digital samples from 28 popular titles, which passengers can buy and download over Amtrak’s admittedly spotty wireless service.

Amtrak is becoming an incubator for literary talent in its own right. Last year, it started a residency program, offering writers a free long-distance train trip and complimentary food. More than 16,000 writers applied and 24 made the cut.

Like Amtrak, Rhapsody has found that writers are eager to get onboard. On a rainy spring afternoon, Rhapsody’s editorial staff sat around a conference table discussing the June issue, which will feature an essay by the novelist Hannah Pittard and an unpublished short story by the late Elmore Leonard.

“Do you have that photo of Elmore Leonard? Can I see it?” Mr. Heller, the editor in chief, asked Rhapsody’s design director, Christos Hannides. Mr. Hannides slid it across the table and noted that they also had a photograph of cowboy spurs. “It’s very simple; it won’t take away from the literature,” he said.

Rhapsody’s office, an open space with exposed pipes and a vaulted brick ceiling, sits in Dumbo at the epicenter of literary Brooklyn, in the same converted tea warehouse as the literary journal N+1 and the digital publisher Atavist. Two of the magazine’s seven staff members hold graduate degrees in creative writing. Mr. Manning, the executive editor, has published a memoir and edited five literary anthologies.

Mr. Manning said Rhapsody was conceived from the start as a place for literary novelists to write with voice and style, and nobody had been put off that their work would live in plane cabins and airport lounges.

Still, some contributors say they wish the magazine were more widely circulated.

“I would love it if I could read it,” said Ms. Schappell, a Brooklyn-based novelist who wrote a feature story for Rhapsody’s inaugural issue. “But I never fly first class.”