jual condotel mewah

Rp 2.422.000.000

Cari Lahan Kebun Bogor RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL).

Cari Lahan Kebun Bogor RumahCantikku.com adalah salah satu devisi dari KATV Group untuk yang bergerak di bidang agen properti. Saat ini baru menawarkan properti-properti KATV Group yang ada di beberapa kota untuk dijual. Jadi properti yang ditawarkan adalah milik sendiri. Cari Lahan Kebun Bogor

Cari Lahan Kebun Bogor

saco-indonesia.com, Ratusan penduduk Kabupaten Kebumen Jawa Tengah terpaksa harus mengungsi karena banjir dan longsor yang telah

saco-indonesia.com, Ratusan penduduk Kabupaten Kebumen Jawa Tengah terpaksa harus mengungsi karena banjir dan longsor yang telah melanda di sejumlah wilayah. Bahkan, Pemerintah Kabupaten Kebumen telah menyatakan wilayahnya dalam masa tanggap darurat selama tiga minggu.

"Saat ini masa tanggap darurat telah diperpanjang dari dua minggu sampai tiga minggu, terhitung dari tanggal 19 Desember kemarin," ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kebumen, Budi Satrio, Senin (23/12).

Dari data yang telah tercatat di BPBD Kebumen, saat ini ada sekitar 660 warga yang masih tinggal di tempat pengungsian. Para penduduk juga masih bertahan di tempat pengungsi akibat hujan dengan intensitas tinggi yang melanda daerah tersebut sejak sepekan terakhir. Dia juga mengungkapkan, ketinggian banjir sudah mencapai lebih dari satu meter.

Bahkan, Budi juga menambahkan, hingga Senin siang (23/12) ada sekitar 150 penduduk Dukuh Bulusari Desa Madurejo Kecamatan Puring yang masih terisolir karena jalan terendam air cukup tinggi. Akses menuju desa tersebut hanya bisa dilalui dengan menggunakan dengan perahu karet.

"Kami juga masih membujuk warga yang masih bertahan agar mau dievakuasi. Karena kami khawatir hujan masih turun dan dapat menyebabkan banjir semakin besar," jelasnya.

Budi juga melanjutkan, sebagian besar penduduk setempat enggan dievakuasi lantaran takut kehilangan harta benda. Namun, BPBD Kebumen juga sudah menyiapkan tiga perahu karet untuk dapat melakukan evakuasi jika dibutuhkan sewaktu-waktu.

Budi juga mengemukakan daerah yang paling parah dilanda banjir berada di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Adimulyo, Kecamatan Puring dan Kecamatan Bonorowo. Hingga saat ini, korban jiwa akibat bencana di Kebumen sudah mencapai 4 orang tewas, 1 luka berat dan 3 luka ringan.

Sementara itu dari Banjarnegara Jawa Tengah telah dilaporkan tanah longsor terjadi di 43 titik tersebar di 25 desa dari 12 kecamatan di Banjarnegara. "Satu orang tewas dan kerusakan rumah meliputi 18 rusak berat, 9 rusak sedang, 52 rusak ringan. Saat ini ada 62 rumah terancam longsor dan jumlah pengungsi sekitar 10 kepala keluarga," kata Staf BPBD Banjarnegara, Andri Sulistiyo.


Editor : Dian Sukmawati

Sebuah riset terbaru dari seorang ilmuwan Belanda mengguncangkan publik. Dia menemukan kandungan hemoglobin (darah merah) dari babi sebagai salah satu bahan untuk filter rokok. Fakta mencengangkan ini diungkapkan peneliti dari Eindhoven, Belanda, Christien Meindertsma, dan lalu didukung oleh Profesor Kesehatan Masyarakat dari University of Sydney, Simon Chapman.

Sebuah riset terbaru dari seorang ilmuwan Belanda mengguncangkan publik. Dia menemukan kandungan hemoglobin (darah merah) dari babi sebagai salah satu bahan untuk filter rokok. Fakta mencengangkan ini diungkapkan peneliti dari Eindhoven, Belanda, Christien Meindertsma, dan lalu didukung oleh Profesor Kesehatan Masyarakat dari University of Sydney, Simon Chapman. Hemoglobin atau protein darah babi, ternyata digunakan untuk membuat filter rokok agar lebih efektif untuk menangkap bahan kimia berbahaya, sebelum masuk paru-paru seorang perokok. Menurut Chapman, industri rokok dunia memang kerap merahasiakan bahan-bahan yang mereka gunakan. "Menurut mereka, ini adalah bisnis dan rahasia dagang kami," kata Chapman seperti dilansir News.com, Kamis (1/4/2010). Prof Chapman mengatakan penelitian ini memberitahu dunia tentang rahasia pembuatan rokok, dan untuk meningkatkan kepedulian terhadap umat Muslim dan Yahudi yang taat, karena babi sangat diharamkan bagi kedua agama tersebut. "Masyarakat Yahudi dan Muslim pasti akan menanggapi hal ini dengan sangat serius, dan juga para vegetarian," pungkas Chapman. Tak ayal temuan ini menjadi bahan diskusi serius para ulama Islam dan para agamawan Yahudi di berbagai negara.

Judge Patterson helped to protect the rights of Attica inmates after the prison riot in 1971 and later served on the Federal District Court in Manhattan.

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Artikel lainnya »