jual condotel mewah

Rp 2.422.000.000

Cari Rumah Bagus Murah RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL). Cari Rumah Bagus Murah

Cari Rumah Bagus Murah salah satu devisi dari KATV Group untuk yang bergerak di bidang agen properti. Saat ini baru menawarkan properti-properti KATV Group yang ada di beberapa kota untuk dijual. Jadi properti yang ditawarkan adalah milik sendiri. Cari Rumah Bagus Murah

Cari Rumah Bagus Murah

Pemerintah Purbalingga Jawa Tengah telah menetapkan penutupan sementara jalur pendakian Gunung Slamet dari Pos Bambangan Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja, Senin (10/3). Dari rilis yang telah dikeluarkan oleh Humas Pemkab Purbalingga telah menyebutkan, penutupan jalur pendakian tersebut dilakukan atas saran petugas pos pengamatan di Gambuhan Pemalang.

Pemerintah Purbalingga Jawa Tengah telah menetapkan penutupan sementara jalur pendakian Gunung Slamet dari Pos Bambangan Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja, Senin (10/3).

Dari rilis yang telah dikeluarkan oleh Humas Pemkab Purbalingga telah menyebutkan, penutupan jalur pendakian tersebut dilakukan atas saran petugas pos pengamatan di Gambuhan Pemalang.

"Atas saran petugas pengamatan gunung Slamet, pendakian ke puncak Gunung Slamet sementara untuk ditutup. Namun, soal status Gunung Slamet juga masih menunggu perkembangan lebih lanjut dari petugas Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral," kata Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) Purbalingga, Prayitno.

Saat ini, Prayitno juga mengungkapkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk dapat antisipasi kemungkinan dinaikkannya status Gunung Slamet dari normal ke waspada.

"Kami juga masih menunggu informasi lebih lanjut soal status gunung Slamet. Yang jelas, pendaki sudah kami larang untuk melakukan pendakian ke puncak gunung Slamet," katanya.

Berdasarkan data di Pos pendakian Gunung Slamet di Dukuh Bambangan, Desa Kutabawa, saat ini telah tercatat ada 21 pendaki yang menuju puncak. Mereka berangkat pada Senin (10/3) pagi.

Pendaki tersebut berasal dari Jakarta 19 orang dan dua pendaki orang dari Tegal. "Petugas di Bambangan sudah mencoba untuk menghubungi melalui nomor ponsel yang dicatatkan di pos sesaat sebelum naik. Saat ini, kami sedang meminta mereka untuk turun kembali," ujarnya.

Selain itu, ada sembilan pendaki dari Pekalongan yang hendak melakukan pendakian pada Senin (10/3) sore. Namun, mereka sudah kami larang dan diminta untuk menangguhkan pendakian ke puncak Slamet.

di Purwokerto pada Senin sore, terlihat asap yang membumbung tinggi dari puncak Gunung Slamet. Banyak warga Purwokerto yang mencari informasi tentang kondisi terkini gunung tertinggi di Jawa Tengah.

saco-indonesia.com, Dalam konser keduanya di Istora Senayan, Kamis (19/12) pukul 20.00 WIB nanti, Trio Lestari yang telah digawa

saco-indonesia.com, Dalam konser keduanya di Istora Senayan, Kamis (19/12) pukul 20.00 WIB nanti, Trio Lestari yang telah digawangi Glenn Fredly, Sandhy Sondoro, dan Tompi akan membawakan lagu-lagu hits mereka.

Ditemui disela latihan di Studio ABBE, Gandaria, Jakarta Selatan, Selasa (17/12) malam, Glenn juga mengaku tak kurang dari 30 lagu akan dibawakan oleh Trio Lestari.

"Banyak ya lagunya, ya sekitar 30an lagu lebih lah nanti," ujar Glenn.

Trio Lestari bakal akan menyajikan sebuah konser yang berbeda dari sebelumnya. Nantinya, mereka juga akan menyatukan lagu-lagu mereka hingga menjadi sebuah cerita.

"Kan konsepnya drama musikal, ada teatrikalnya, yang dipadu dengan lagu-lagu kami. Lagu-lagu kami akan membentuk sebuah cerita," terang Glenn.


Editor : Dian Sukmawati

Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Mr. Alger, who served five terms from Texas, led Republican women in a confrontation with Lyndon B. Johnson that may have cost Richard M. Nixon the 1960 presidential election.

Artikel lainnya »