jual ruko

Rp 1.820.000.000

Cari Rumah Bagus Termurah RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL). Cari Rumah Bagus Termurah

Cari Rumah Bagus Termurah salah satu devisi dari KATV Group untuk yang bergerak di bidang agen properti. Saat ini baru menawarkan properti-properti KATV Group yang ada di beberapa kota untuk dijual. Jadi properti yang ditawarkan adalah milik sendiri. Cari Rumah Bagus Termurah

Cari Rumah Bagus Termurah

Setelah asyik bermain di pantai tepatnya di Pulau Untung Jawa di bulan Maret 2013 lalu, perjalanan selanjutnya di bulan April 20

Setelah asyik bermain di pantai tepatnya di Pulau Untung Jawa di bulan Maret 2013 lalu, perjalanan selanjutnya di bulan April 2013 AK dan beberapa teman mengadakan trip menuju Taman Wisata Cibodas dan sekitarnya. Berikut catatan perjalanannya :

Sabtu pagi setelah menunaikan sholat shubuh beberapa teman yang ikut dalam trip ini sudah berkumpul di star point yang ditentukan, beberapa lagi masih ada saja yang belum hadir dikarenakan sibuk dengan barang bawaan. Setelah semuanya kumpul dengan jumlah 8 orang dan mobil Innova serta sopirnya yang udah di booking sebelumnya siap untuk menuju Taman Wisata Cibodas.

Tepatnya jam 5.30 pagi AK dan teman - teman sudah berangkat menuju Taman Wisata Cibodas, hal ini dilakukan agar kami lebih cepat sampai ke sana dan tidak terjebak macet di jalur puncak Bogor. AK dan teman - teman  menikmati pemandangan sepanjang perjalanan dengan diiringi musik pilihan yang telah disediakan, mengobrol sambil menikmati beberapa makanan yang dibawa oleh teman teman cukup untuk menghilangkan suntuk dan bete serta agar suasana menjadi nyaman.

Perjalanan ditempuh sekitar 2 setengah jam dari Jakarta Barat, walaupun sempat kelewat sampai Cipanas karena asyiknya suasana di dalam mobil hingga tidak ada yang perhatikan tanda masuk ke Cibodas. Setelah berbalik arah, mobil pun memasuki kawasan Wisata Cibodas sekitar pukul 8 pagi saat itu.

Setelah membayar dipintu masuk seharga Rp. 9.500/ orang dan 16 ribu untuk mobilnya, kami pun mengitari dengan mobil  beberapa tempat yang asyik di kawasan ini. Akhirnya kamipun sepakat untuk memarkir mobil di parkiran menuju Air terjun Ciismun di kawasan Cibodas ini.

Perjalanan dari parkir mobil menuju air terjun Ciismun ditempuh sekitar setengah jam, melihat indahnya air terjun dan bermain air menjadi semangat kami untuk terus melangkah agar sampai ke tujuan. Dan beberapa momen yang tidak terlewatkan kami abadikan berikut ini :

Terpana adalah kata yang pas buat perasaan kami saat sampai di air terjun Ciismun ini, air terjun yang tersembunyi ini sangat memukau penglihatan kami kala itu, ditambah suasana pagi yang sepi saat itu serasa hanya kami yang menikmati keindahan air terjun Ciismun ini.  Beberapa dari kami langsung bermain air di air terjun ini, beberapa yang lain menikmati pemandangan air terjun yang memukau sambil mencari spot untuk berphoto ria.

Setelah kurang lebih 1 jam di air terjeun Ciismun, kami pun bersiap - siap untuk melakukan perjalanan kembali ke area parkir mobil, karena lelahnya perjalanan saat itu kami pun siap untuk  menikmati makan siang yang kami bawa dari rumah sambil menikmati hijaunya alam Cibodas.

Setelah menikmati makan siang kami kembali mengelilingi kawasan Cibodas dengan mobil, beberapa saat mobil berhenti agar kami bisa menikmati  hamparan  taman hijau yang  luas  atau pemandangan kolam air mancur yang indah serta gunung dan pohon pohon yang rindang.

Sebenarnya masih banyak area menarik di kawasan ini yang belum sempat kami kunjungi namun karena waktu sudah siang dan kami ingin melanjutkan perjalanan selanjutnya, kami pun segera menuju pintu keluar 2 dari kawasan Cibodas menuju parkiran air terjun Cibereum yang dekat dengan pintu masuk wisata Mandalawangi di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Namun sebelumnya kami santai sejenak di area parkir sambil menikmati beberapa jajanan yang ada di area ini, melaksanakan sholat dan bersih bersih di wc yang ada di area ini dengan membayar Rp. 2000 untuk buang air kecil dan Rp. 3000 untuk mandi dan buang air besar.

Sekitar kurang lebih pukul 13.00 kami pun mulai perjalanan menuju air terjun Cibereum yang berada 1.675 diatas permukaan laut ini harus kami daki sekitar 1 jam. Setelah membayar tiket di pintu masuk Rp. 2.500/ orang kami pun mulai memasuki jalan berbatu di tengah hutan.

Perjalanan menuju air terjun Cibereum ini amat sangat melelahkan, melewati hutan yang gelap walau kadang ada jalan yang sudah bagus. Sesaat berjalan kami harus istirahat sejenak untuk menghilangkan rasa lelah dan letih seraya memberi semangat kepada teman teman untuk sampai ke tujuan.

Setelah berjuang sepanjang jalan dengan keringat yang bercucuran, akhirnya air terjun Cibereum dapat kami taklukan. Kami pun hanya bisa bengong  melihat indahnya alam yang mempesona ini dan ternyata ada 2 air terjun lain yang berdekatan dengan air terjun Cibereum ini.  Sungguh menakjubkan, kami pun tak lupa mengabadikan momen ini.

Perasaan bangga dan bahagia bersatu dalam jiwa kami saat berada di tempat yang jauh ini, rasa lelah dan letih seakan sirna dengan sampainya kami di tempat ini. Kami pun mulai menikmati  suasana ramai saat itu, sesekali bermain air dan makan makanan yang kami sudah siapkan.

Ketika waktu sudah sore, kamipun mulai melangkah turun menuju parkiran mobil, sesampainya disana dan sebelum meninggalkan kawasan wisata tak lupa kami membeli beberapa oleh - oleh seperti sandal, kaos, tas, makanan ringan dan sayur - sayuran dengan harga terjangkau tentunya.

Akhirnya usai sudah perjalanan kali ini, mobilpun bergegas menuju Jakarta, sesaat kami berhenti di kawasan Puncak Bogor untuk sejenak menikmati indahnya hamparan kebun teh di Kawasan Wisata Gunung Mas. Demikian

Home » HOW TO, TIPS & TRIK » Cara Mengembalikan Registry yang Terjangkit Virus   Cara Mengembalikan

Home » HOW TO, TIPS & TRIK » Cara Mengembalikan Registry yang Terjangkit Virus
 
 

Cara Mengembalikan Registry yang 

Terjangkit Virus

Seperti layaknya yang sudah kita ketahui bersama, sistem operasi windows memiliki seluk beluk yang sangat kompleks dan teratur. Dikarenakan memiliki struktur yang sangat kompleks, maka banyak orang yang mencari keuntungan dan mencari uang dari hal tersebut. Seperti halnya menciptakan berbagai jenis antivirus dan menjual berbagai macam jenis anti virus nya. Hal ini sudah sangat familiar kita dengar di kalangan masyarakat. Berbagai macam kejahatan cyber terjadi untuk dimanfaatkan sebagai lahan mencari uang.

Cara Mengembalikan Registry yang 

Terjangkit Virus Pictures

Nah, memang sedikit sulit untuk memperbaiki komputer kita yang sudah terjangkit oleh virus. Apalagi jika virus yang melekat merupakan virus golongan tingkat tinggi atau pun virus yang sudah sangat kuat pertahanan nya. Dan tentunya virus yang tergolong tingkat tinggi ini akan menyerang bagian yang sulit kita jangkau atau pun kita perbaiki. Misalnya saja seperti registry. Biasanya virus akan men-disable kan registry nya seperti system restore, shutdown, hidden folders, dan sebagainya.

Bagaimana cara memperbaikinya jika memang hal tersebut sudah terjadi ? Hal tersebut merupakan suatu hal yang cukup sulit dikarenakan memang registry tersebut memang susah untuk diperbaiki. Namun dengan sedikit ilmu dan trik yang tepat, maka registry tersebut tentu saja bisa diperbaiki. Ilmu ini sebenarnya bisa dipelajari oleh semua orang. Dan untuk mempelajari nya anda tidak perlu harus mahir sekali dalam bidang komputer.

Oke, langsung saja kita masuk ke tahap bagaimana cara mengembalikan registry yang terjangkit virus. Berikut langkah-langkahnya.

Mengaktifkan kembali registry System Restore yang terinfeksi virus

Caranya:

  • Pertama-tama, masuk ke Run dan ketikkan Regedit lalu tekan enter sampai muncul form Registry.
  • Masuk ke HKEY_LOCAL_MACHINE\\SOFTWARE\\Microsoft \\Windows NT\\CurrentVersion\\SystemRestore dan klik dua kali pada DisableSR rubah value datanya menjadi angka 0 sehingga menjadi 0×00000000 (0).
  • Restart komputer anda agar terjadi perubahan terhadap yang anda lakukan.
  • Klik kanan pada My computer dan Klik properties.
  • Terakhir, klik tab System restore dan aktifkan lagi system restorenya.

Mengaktifkan kembali registry Shutdown yang terinfeksi virus

Caranya:

  • Pertama-tama, masuk ke Run dan ketikkan Regedit lalu tekan enter.
  • Masuk ke HKEY_LOCAL_MACHINE\\SOFTWARE\\Microsoft\\Windows NT\\CurrentVersion\ Winlogon dan klik dua kali pada AutoRestartShell serta ubah valuenya menjadi angka 1.
  • Terakhir, restart komputer anda.

Hired in 1968, a year before their first season, Mr. Fanning spent 25 years with the team, managing them to their only playoff appearance in Canada.

Though Robin and Joan Rolfs owned two rare talking dolls manufactured by Thomas Edison’s phonograph company in 1890, they did not dare play the wax cylinder records tucked inside each one.

The Rolfses, longtime collectors of Edison phonographs, knew that if they turned the cranks on the dolls’ backs, the steel phonograph needle might damage or destroy the grooves of the hollow, ring-shaped cylinder. And so for years, the dolls sat side by side inside a display cabinet, bearers of a message from the dawn of sound recording that nobody could hear.

In 1890, Edison’s dolls were a flop; production lasted only six weeks. Children found them difficult to operate and more scary than cuddly. The recordings inside, which featured snippets of nursery rhymes, wore out quickly.

Yet sound historians say the cylinders were the first entertainment records ever made, and the young girls hired to recite the rhymes were the world’s first recording artists.

Year after year, the Rolfses asked experts if there might be a safe way to play the recordings. Then a government laboratory developed a method to play fragile records without touching them.

Audio

The technique relies on a microscope to create images of the grooves in exquisite detail. A computer approximates — with great accuracy — the sounds that would have been created by a needle moving through those grooves.

In 2014, the technology was made available for the first time outside the laboratory.

“The fear all along is that we don’t want to damage these records. We don’t want to put a stylus on them,” said Jerry Fabris, the curator of the Thomas Edison Historical Park in West Orange, N.J. “Now we have the technology to play them safely.”

Last month, the Historical Park posted online three never-before-heard Edison doll recordings, including the two from the Rolfses’ collection. “There are probably more out there, and we’re hoping people will now get them digitized,” Mr. Fabris said.

The technology, which is known as Irene (Image, Reconstruct, Erase Noise, Etc.), was developed by the particle physicist Carl Haber and the engineer Earl Cornell at Lawrence Berkeley. Irene extracts sound from cylinder and disk records. It can also reconstruct audio from recordings so badly damaged they were deemed unplayable.

“We are now hearing sounds from history that I did not expect to hear in my lifetime,” Mr. Fabris said.

The Rolfses said they were not sure what to expect in August when they carefully packed their two Edison doll cylinders, still attached to their motors, and drove from their home in Hortonville, Wis., to the National Document Conservation Center in Andover, Mass. The center had recently acquired Irene technology.

Audio

Cylinders carry sound in a spiral groove cut by a phonograph recording needle that vibrates up and down, creating a surface made of tiny hills and valleys. In the Irene set-up, a microscope perched above the shaft takes thousands of high-resolution images of small sections of the grooves.

Stitched together, the images provide a topographic map of the cylinder’s surface, charting changes in depth as small as one five-hundredth the thickness of a human hair. Pitch, volume and timbre are all encoded in the hills and valleys and the speed at which the record is played.

At the conservation center, the preservation specialist Mason Vander Lugt attached one of the cylinders to the end of a rotating shaft. Huddled around a computer screen, the Rolfses first saw the wiggly waveform generated by Irene. Then came the digital audio. The words were at first indistinct, but as Mr. Lugt filtered out more of the noise, the rhyme became clearer.

“That was the Eureka moment,” Mr. Rolfs said.

In 1890, a girl in Edison’s laboratory had recited:

There was a little girl,

And she had a little curl

Audio

Right in the middle of her forehead.

When she was good,

She was very, very good.

But when she was bad, she was horrid.

Recently, the conservation center turned up another surprise.

In 2010, the Woody Guthrie Foundation received 18 oversize phonograph disks from an anonymous donor. No one knew if any of the dirt-stained recordings featured Guthrie, but Tiffany Colannino, then the foundation’s archivist, had stored them unplayed until she heard about Irene.

Last fall, the center extracted audio from one of the records, labeled “Jam Session 9” and emailed the digital file to Ms. Colannino.

“I was just sitting in my dining room, and the next thing I know, I’m hearing Woody,” she said. In between solo performances of “Ladies Auxiliary,” “Jesus Christ,” and “Dead or Alive,” Guthrie tells jokes, offers some back story, and makes the audience laugh. “It is quintessential Guthrie,” Ms. Colannino said.

The Rolfses’ dolls are back in the display cabinet in Wisconsin. But with audio stored on several computers, they now have a permanent voice.

Artikel lainnya »