Jual rumah di bogor

Rp 4.855.000.000

Harga Rumah Impian Paling Murah Depok RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL). Harga Rumah Impian Paling Murah Depok

Harga Rumah Impian Paling Murah Depok salah satu devisi dari KATV Group untuk yang bergerak di bidang agen properti. Saat ini baru menawarkan properti-properti KATV Group yang ada di beberapa kota untuk dijual. Jadi properti yang ditawarkan adalah milik sendiri. Harga Rumah Impian Paling Murah Depok

Harga Rumah Impian Paling Murah Depok

Tujuh tahun menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Korea di Korea, benar-benar tidak disia-siakan oleh Mugiyanto, yang umurnya

Tujuh tahun menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Korea di Korea, benar-benar tidak disia-siakan oleh Mugiyanto, yang umurnya sudah tidak terbilang muda.

Bapak satu anak yang tinggal di Dusun Silowan, Kelurahan Pager Sari, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah ini merasa cukup mengais modal dengan tiga tahun menjadi buruh bimbel (1997-2000), dan empat tahun menjadi buruh tekstil (2005-2009). Setelah itu, ia menekuni bisnis pembuatan batako, paving, bis beton, kolong selokan, dan lain-lain.

Sekitar tujuh tahun menjadi TKI merupakan waktu yang sangat singkat sekali dalam mencari modal. Oleh karena itu, ia tidak membuang-buang waktu yang relatif singkat tersebut untuk bekerja dan menabung.

Mengapa ia tidak membuang-buang waktu? Sebab, Mugiyanto setelah mendarat di tanah Air akan menjalani usaha sendiri.

Mugiyanto menjelaskan, untuk melakoni bisnisnya tersebut modal yang dibutuhkan mencapai ratusan juta. Modal tersebut dikucurkannya untuk membeli tanah tempat produksi dan gudang sederhana sebesar Rp90 juta. Untuk peralatan dan mesin cetak batako, bis beton, dibutuhkan modal sebesar Rp45 juta. Membeli dua unit truk kecil untuk mengantar produk pesanan dan operasional diperlukan uang sebesar Rp100 juta. Nah, itu belum terhitung bahan-bahan, seperti pasir, semen, dan sirtu.

Jadi, dalam membuka usahanya, ia menyiapkan modal kurang lebih sebesar Rp225 juta. "Semua uang saya peroleh dari menabung selama menjadi TKI di Korea," ujarnya.

Kini, usahanya berjalan maju. Mugoyanto mengaku dirinya mampu meraup untung sebesar Rp5 juta hingga Rp 7 juta per bulannya. (*DI)
'Mugiyanto, Mantan TKI yang Sukses Jadi Pengusaha Batako ':

Artikel Bisnis Lainnya

    Mengapa Teman Sekelas yang Lebih Muda Lebih Sukses Pernahkah Anda merasa tersaingi dengan seseorang yang usianya tak lebih tua dari Anda, bahkan lebih muda tetapi telah berada setingkat dengan Anda? Anda bisa menemukan orang-orang seperti ini di berbagai kesempatan, seperti di kelas saat Anda masih sekolah dulu, atau kuliah atau ... Artikel Bisnis

    Kisah Jatuh-bangun Pemilik Corner Kebab Sebagai pebisnis baru, tentu banyak masalah yang harus dihadapi oleh Ardi, nama panggilan dari pemilik franchise atau waralaba Corner Kebab, Ardiansyah Murdiawan Saputra. Namun, berbagai masalah itu dianggap Ardi bukan sebagai hambatan, melainkan tantangan yang harus ... Artikel Bisnis

    EXCELSO, Kopi untuk Kalangan Menengah Atas Bagi Anda penggemar kopi tentu tak asing dengan nama EXCELSO. Kafe EXCELSO tersebut kali pertama dibuka pada September 1991 di Plaza Indonesia, Jakarta, untuk mendukung merek kopi yang baru diciptakan oleh PT Santos Jaya Abadi, yaitu kopi EXCELSO. Kopi EXCELSO dibuat dan dipasarkan ... Artikel Bisnis

    Ingin Kuliah Entrepreneurship? Baca Ini Dulu Jika Anda benar ingin sukses dalam berwirausaha, mungkin Anda bisa mempertimbangkan untuk mengambil sebuah jurusan entrepreneurshp atau yang berhubungan dengan entrepreneurship di universitas. Bagi Anda yang menyukai dunia bisnis dan wirausaha, tentunya ini menjadi sebuah peluang ... Artikel Bisnis

    Cetak Omzet Puluhan Juta dari Mi Ayam Bisnis makanan memang tak pernah surut. Salah satunya ialah bisnis mi ayam. Meski banyak pemain, toh bisnis ini tetap menjanjikan. Hal tersebut membuat Teguh Mardianto mantap mengeluti usaha yang telah dirintis oleh ibunya sejak tahun 1993 di daerah Prambanan, Klaten, Jawa ... Artikel Bisnis

 

saco-indonesia.com, penderitaan dan kesensaraan akan membawa kebahagiaan

saco-indonesia.com, penderitaan dan kesensaraan akan membawa kebahagiaan dan perdamaian

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Hired in 1968, a year before their first season, Mr. Fanning spent 25 years with the team, managing them to their only playoff appearance in Canada.

Artikel lainnya »