Jual Kavling di Sentul Nirwana

Rp 1.908.000.000

Jual Rumah Cantik Paling Murah Sentul RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL). Jual Rumah Cantik Paling Murah Sentul

Jual Rumah Cantik Paling Murah Sentul salah satu devisi dari KATV Group untuk yang bergerak di bidang agen properti. Saat ini baru menawarkan properti-properti KATV Group yang ada di beberapa kota untuk dijual. Jadi properti yang ditawarkan adalah milik sendiri. Jual Rumah Cantik Paling Murah Sentul

Jual Rumah Cantik Paling Murah Sentul

saco-indonesia.com, Perawatan Untuk Mesin Pengering Mesin Pengering merupakan mesin pengering pakaian setelah proses pencu

saco-indonesia.com,

Perawatan Untuk Mesin Pengering

Mesin Pengering merupakan mesin pengering pakaian setelah proses pencucian dengan menggunakan mesin cuci. Mesin pengering ini biasanya telah tergabung dalam satu paket mesin cuci, dan banyak masyarakat yang lebih menyukai dan telah memilih mesin cuci yang telah dilengkapi dengan mesin pengering di dalamnya. Biasanya mesin pengering ini banyak di miliki oleh para pengusaha jasa laundry, karena akan dapat memudahkan dan mempercepat proses laundry yang sedang dilakukan. Apalagi cuaca yang tidak bisa di prediksikan, kadang siang panas terik namun sore hari hujan lebat dengan angin.  Sehingga akan susah untuk dapat mengeringkan pakaian dengan bantuan sinar matahari.  Oleh karena itu, harus diperlukan sebuah mesin cuci yang telah dilengkapi mesin pengering untuk dapat memudahkan proses pengeringan pakaian.

Perawatan Mesin Pengering
Mesin Pengering
Cara untuk membersihkan mesin pengering, pastilah akan sama halnya dengan membersihkan mesin cuci. Apalagi mesin pengering ini juga ada dalam satu paket bersama mesin cuci. Pasti, membersihkan nya akan juga sekaligus baik untuk mesin pengering dan juga mesin cuci nya. Berikut tips perawatan mesin pengering sekaligus mesin cuci, yaitu :

    Berusaha untuk mengatur mesin pengering dan mesin cuci dengan sistem penyetelan normal. Ini dilakukan untuk dapat menjaga perputaran mesin cuci dan juga mesin pengering, sehingga baik mesin cuci dan mesin pengering nya akan menjadi tahan lama.
    Usahakan tegangan mesin pengering dan mesin cuci cukup. Sebuah mesin pengering dan mesin cuci membutuhkan tegangan yang stabil  yaitu di bawah 240 volt.  Jika tegangan khusus mesin pengerring ini di atas, maka pematik api atau ignitor  tidak akan mampu berfungsi secara sempurna sehingga api tidak akan keluar dan mesin pengering tidak digunakan dengan maksimal. Untuk cek dan melihat tegangan mesin pengering, anda bisa menggunakan alat seperti stavolt.
    Sering cek elemen pemanas mesin pengering anda. Elemen pemanas pada mesin pengering ini seperti burner, pematik api, sensor termal panas.  Usahakan untuk selalu memeriksa dan membersihkan elemen tersebut dari kotoran, sehingga proses pengeringan akan dapat dilakukan dengan cepat. Pastikan selalu untuk melihat ignitor yang berwarna merah itu menyala  dan timbul percikan api ketika mesin pengering dihidupkan. Namun jika ignitor tersebut menyala dengan lampu indikatornya berwarna putih atau kekuningan, maka ada baiknya untuk segera ganti ignitor tersebut dengan yang baru.
    Pastikan pengaturan proses pengeringan sesuai dengan pakaian  yang akan dikeringkan. Untuk dapat mengatur proses pengeringan pakaian, anda alihkan tombol atau knop program  pada setelan normal heat atau panas sedang. Namun jika anda memilih tombola tau knop program no heat, maka tidak akan udara panas yang keluar. Semua hal tentang pengaturan pengeringan mulai dari memilih waktu, pilihan program, jenis kain dan juga temperature sangat memainkan peran yang sangat penting  dalam proses pengeringan pakaian di dalam mesin pengering

Editor : Dian Sukmawati

MAKKAH–Pemerintah Arab Saudi tetap menolak permohonan Indonesia untuk tidak menggunakan perluasan wilayah Mina (Mina Jadid

MAKKAH–Pemerintah Arab Saudi tetap menolak permohonan Indonesia untuk tidak menggunakan perluasan wilayah Mina (Mina Jadid) . Pemerintah Kerajaan Arab Saudi memutuskan bahwa Mina Jadid tetap digunakan sebagai tempat mabit (bermalam) bagi sebagian jamaah asal Indonesia.
”Permintaan Indonesia untuk tak menggunakan Mina Jadid  ditolak oleh Pemerintah Arab Saudi. Kami sendiri tak diberitahu alasan penolakan tersebut,” kata Kepala PPIH Daerah Kerja Madinah, Akhmad Jauhari, Sabtu (5/10), dikutip dari Media Center Haji (MCH).
“Dari total 48 maktab yang disediakan untuk Indonesia, 8 maktab di antaranya berada di wilayah Mina Jadid. Artinya, 8 × 3.250 orang, itulah total jamaah asal Indonesia yang akan mabit di Mina Jadid” kata Jauhari.
Jauhari menambahkan, pada tahun ini kapasitas setiap maktab mengalami penggemukan. Hal itu mengakibatkan adanya rekonfigurasi penomoran maktab jamaah haji Indonesia di Mina. ”Jumlah maktabnya tetap 48. Namun, kapasitas setiap maktab bertambah, dari semula 2.800 orang menjadi 3.250 orang,” ujarnya.
Dengan adanya rekonfigurasi, kata dia, penomoran maktab tidak lagi berurut dari 1 sampai dengan 48 maktab. Karena penambahan kapasitas, distribusi jamaah dalam satu maktab akan ‘memakan’ jatah maktab berikutnya. ”Di Mina itu, areal maktab tak berubah bahkan sudah dipagari. Kapasitasnya pun tetap untuk 2.800 orang. Akibatnya, ada beberapa nomor maktab yang hilang,” ucapnya.
Jauhari mencontohkan, sebagian jamaah yang bermukim di maktab 1 akan tinggal di perkemahan yang sebenarnya sudah masuk ke maktab 2, demikian seterusnya.
Oleh karena itu, nanti, ada nomor maktab yang ’hilang’ karena lokasinya sudah penuh. Maktab-maktab inilah yang kemudian berubah, tidak lagi sesuai dengan hasil qur’ah (undian). ”Totalnya, terdapat 15 maktab yang berubah,

Sumber : http://saharakafila.com

Baca Artikel Lainnya : MEKAH DI KUNJUNGGI JEMAAH HAJI DARI BERBAGAI BELAHAN DUNIA

With 12 tournament victories in his career, Mr. Peete was the most successful black professional golfer before Tiger Woods.

Hockey is not exactly known as a city game, but played on roller skates, it once held sway as the sport of choice in many New York neighborhoods.

“City kids had no rinks, no ice, but they would do anything to play hockey,” said Edward Moffett, former director of the Long Island City Y.M.C.A. Roller Hockey League, in Queens, whose games were played in city playgrounds going back to the 1940s.

From the 1960s through the 1980s, the league had more than 60 teams, he said. Players included the Mullen brothers of Hell’s Kitchen and Dan Dorion of Astoria, Queens, who would later play on ice for the National Hockey League.

One street legend from the heyday of New York roller hockey was Craig Allen, who lived in the Woodside Houses projects and became one of the city’s hardest hitters and top scorers.

“Craig was a warrior, one of the best roller hockey players in the city in the ’70s,” said Dave Garmendia, 60, a retired New York police officer who grew up playing with Mr. Allen. “His teammates loved him and his opponents feared him.”

Young Craig took up hockey on the streets of Queens in the 1960s, playing pickup games between sewer covers, wearing steel-wheeled skates clamped onto school shoes and using a roll of electrical tape as the puck.

His skill and ferocity drew attention, Mr. Garmendia said, but so did his skin color. He was black, in a sport made up almost entirely by white players.

“Roller hockey was a white kid’s game, plain and simple, but Craig broke the color barrier,” Mr. Garmendia said. “We used to say Craig did more for race relations than the N.A.A.C.P.”

Mr. Allen went on to coach and referee roller hockey in New York before moving several years ago to South Carolina. But he continued to organize an annual alumni game at Dutch Kills Playground in Long Island City, the same site that held the local championship games.

The reunion this year was on Saturday, but Mr. Allen never made it. On April 26, just before boarding the bus to New York, he died of an asthma attack at age 61.

Word of his death spread rapidly among hundreds of his old hockey colleagues who resolved to continue with the event, now renamed the Craig Allen Memorial Roller Hockey Reunion.

The turnout on Saturday was the largest ever, with players pulling on their old equipment, choosing sides and taking once again to the rink of cracked blacktop with faded lines and circles. They wore no helmets, although one player wore a fedora.

Another, Vinnie Juliano, 77, of Long Island City, wore his hearing aids, along with his 50-year-old taped-up quads, or four-wheeled skates with a leather boot. Many players here never converted to in-line skates, and neither did Mr. Allen, whose photograph appeared on a poster hanging behind the players’ bench.

“I’m seeing people walking by wondering why all these rusty, grizzly old guys are here playing hockey,” one player, Tommy Dominguez, said. “We’re here for Craig, and let me tell you, these old guys still play hard.”

Everyone seemed to have a Craig Allen story, from his earliest teams at Public School 151 to the Bryant Rangers, the Woodside Wings, the Woodside Blues and more.

Mr. Allen, who became a yellow-cab driver, was always recruiting new talent. He gained the nickname Cabby for his habit of stopping at playgrounds all over the city to scout players.

Teams were organized around neighborhoods and churches, and often sponsored by local bars. Mr. Allen, for one, played for bars, including Garry Owen’s and on the Fiddler’s Green Jokers team in Inwood, Manhattan.

Play was tough and fights were frequent.

“We were basically street gangs on skates,” said Steve Rogg, 56, a mail clerk who grew up in Jackson Heights, Queens, and who on Saturday wore his Riedell Classic quads from 1972. “If another team caught up with you the night before a game, they tossed you a beating so you couldn’t play the next day.”

Mr. Garmendia said Mr. Allen’s skin color provoked many fights.

“When we’d go to some ignorant neighborhoods, a lot of players would use slurs,” Mr. Garmendia said, recalling a game in Ozone Park, Queens, where local fans parked motorcycles in a lineup next to the blacktop and taunted Mr. Allen. Mr. Garmendia said he checked a player into the motorcycles, “and the bikes went down like dominoes, which started a serious brawl.”

A group of fans at a game in Brooklyn once stuck a pole through the rink fence as Mr. Allen skated by and broke his jaw, Mr. Garmendia said, adding that carloads of reinforcements soon arrived to defend Mr. Allen.

And at another racially incited brawl, the police responded with six patrol cars and a helicopter.

Before play began on Saturday, the players gathered at center rink to honor Mr. Allen. Billy Barnwell, 59, of Woodside, recalled once how an all-white, all-star squad snubbed Mr. Allen by playing him third string. He scored seven goals in the first game and made first string immediately.

“He’d always hear racial stuff before the game, and I’d ask him, ‘How do you put up with that?’” Mr. Barnwell recalled. “Craig would say, ‘We’ll take care of it,’ and by the end of the game, he’d win guys over. They’d say, ‘This guy’s good.’”

Artikel lainnya »