jual ruko

Rp 1.820.000.000

Jual Rumah Murah Sentul Nirwana Residence RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL).

Jual Rumah Murah Sentul Nirwana Residence RumahCantikku.com adalah salah satu devisi dari KATV Group untuk yang bergerak di bidang agen properti. Saat ini baru menawarkan properti-properti KATV Group yang ada di beberapa kota untuk dijual. Jadi properti yang ditawarkan adalah milik sendiri. Jual Rumah Murah Sentul Nirwana Residence

Jual Rumah Murah Sentul Nirwana Residence

Bulan lalu saya mengirim netbook Acer Aspire One ke biak papua melalui jasa pengiriman PCP dengan ongkos kirim yang menurut saya

Bulan lalu saya mengirim netbook Acer Aspire One ke biak papua melalui jasa pengiriman PCP dengan ongkos kirim yang menurut saya cukup mahal. Beratnya tidak sampai 3kg, tapi ongkos kirimnya 300ribu lebih. Nah, seminggu yang lalu saya kembali kirim barang ke makassar dengan berat 24kg. Nah, kebayang nggak berapa ongkos kirim-nya kalau lewat jasa pengiriman seperti JNE atau TIKI ? Saya coba cek pake fasilitas check tarif di situs JNE, dan hasilnya 720 ribu (Yogyakarta – Makassar).mahal sekali ! Hampir setengah dari harga barang yang dikirim (kipas untuk souvenir pernikahan), yaitu 1,5 juta rupiah.

Bagi saya ongkos kirim segitu terlalu mahal untuk sebuah barang yang nilai harganya hanya 1,5 rupiah. Saya pun telah mencoba mencari info jasa kirim barang yang lebih murah. Setelah tanya sana-sini, akhirnya ada seorang teman yang memberi tahu "kalau mau kirim barang dengan ongkos kirim murah, kirim langsung lewat bandara aja, tapi nanti penerimanya harus ngambil sendiri di bandara loh...", katanya.

Setelah dapat info tersebut, tanpa banyak tanya lagi, saya langsung hubungi adik saya di makassar, untuk dapat memastikan bisa atau tidak ke bandara untuk mengambil barang yang akan saya kirim nanti. Karena adik saya bilang “bisa”, saya pun langsung meluncur ke bandara Adisutjipto Yogyakarta untuk dapat mencari tahu kebenaran info teman saya tersebut, sekaligus mencari tahu kira-kira berapa ongkos kirim-nya.

Sesampai di Bandara, saya coba tanya tukang parkir yang ada disitu “dimana tempat kirim barang”. Tukang parkirnya langsung menunjuk ke salah-satu bangunan yang persis ada di samping area parkiran motor. “Wah, ternyata tidak sulit untuk mencari tempat kirim barangnya” kata saya dalam hati. Habis parkir motor, sayang langsung berjalan menuju gedung yang ditunjuk si tukang parkir tadi. Dari kejauhan sudah keliatan kalau bangunan tersebut sepertinya memang tempat khusus untuk pengambilan dan kirim barang.

Ternyata benar, gedung tersebut memang tempat pengambilan dan kirim barang. Saya lihat disitu juga ada mobil-mobil dari jasa pengiriman seperti TIKI, JNE, dan PCP. Karena sudah yakin kalau ini benar2 tempat kirim barang, saya kemudian mulai tanya-tanya, mulai dari ongkos kirim, berapa lama barang sampai, dan cara pengambilan barang di kota tujuan.

Benar saja, kirim barang langsung melalui bandara, ongkos kirimnya memang lebih murah, bahkan boleh dibilang jauh lebih murah dibanding kalau melalui jasa pengiriman yang diantar langsung ke alamat tujuan. Bayangkan, kalau saya krim melalui JNE ongkos kirimnya sekitar 720 ribu, tapi waktu saya kirim langsung lewat bandara hanya 314 ribu. Aslinya 240ribu (10ribu/kg) tapi ditambah biaya packing, adminitrasi, pajak dan lain-lain, jadi totalnya 314ribu. Ini ongkos kirim dari jogja ke makassar loh yaa.. kalau ke daerah lain saya kurang tahu, karena setiap daerah beda-beda.

Satu lagi keunggulan kalau kirim barang langsung lewat bandara, yaitu barang lebih cepat sampai. Tapi disarankan, kalau barang sudah sampai, secepatnya diambil, karena kalau kelamaan nanti kena biaya penyimpanan gudang. Orang yang boleh ngambil tidak harus orang yang namanya tercatat di penerima, bisa siapa saja, yang penting membawa atau menunjukkan nomor pengiriman yang didapat saat melakukan pengiriman.

Satu yang lupa saya tanyakan, yaitu: barang-barang  yang beratnya cuma satu atau dua kilogram atau yang tidak sampai satu kilogram, kira-kira diterima juga gak, ya? Soalnya yang saya liat disitu barang-barang berat semua.

saco-indonesia.com, Warga Desa Ranca Iyuh, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang telah terkejut dengan temuan tas ransel yang

saco-indonesia.com, Warga Desa Ranca Iyuh, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang telah terkejut dengan temuan tas ransel yang berisi bahan peledak di sebuah warteg. Tempat itu juga tak jauh dari lokasi perampokan bank BRI.

Kemudian tas tersebut telah dilaporkan ke polisi. Sehari sebelumnya, telah terjadi peristiwa perampokan BRI yang menguras Rp 570 juta.

Tas berwarna hitam itu diduga telah tertinggal pelaku perampokan BRI seusai bersantap di Warteg itu. "Saya telah menemukan tas itu pada Selasa (24/12). Saya awalnya berpikir itu tas orang yang ketinggalan saat makan pada Selasa petang. Mereka makan enam orang di sini," ujar Saefuri.

Karena tak menaruh curiga, Saefuri juga mengaku tas tersebut kemudian dia amankan dan disimpan di meja warteg. Tetapi karena sampai siang pemiliknya tidak juga datang untuk mengambil tas, ia pun curiga.

"Curigalah saya, kemudian saya laporkan ke Polsek Panongan pada siang harinya," ujarnya.

Sekitar pukul 14.00 WIB, tim dari Polresta Tangerang langsung menuju ke lokasi dan membuka isi tas misterius yang berada di warteg tersebut. Saat juga melihat, petugas Polresta langsung menduga tas isi berisi bahan peledak.

Kapolresta Tangerang Kombes Pol Irfing Jaya juga mengatakan, ada rangkaian kabel di tas tersebut. "Ada rangkaian kabel dan baterai yang menyerupai peledak," ujarnya.

Untuk dapat memastikan itu, Kapolres lalu meminta bantuan Tagana Polda Metro Jaya yang tiba di lokasi pukul 18.00 WIB tadi. Sekitar pukul 18.49 WIB tas tersebut dibuka. Setelah itu tas yang berisi bom dibawa ke lokasi persawahan untuk kemudian diledakkan.


Editor : Dian Sukmawati

Ms. Plisetskaya, renowned for her fluidity of movement, expressive acting and willful personality, danced on the Bolshoi stage well into her 60s, but her life was shadowed by Stalinism.

From sea to shining sea, or at least from one side of the Hudson to the other, politicians you have barely heard of are being accused of wrongdoing. There were so many court proceedings involving public officials on Monday that it was hard to keep up.

In Newark, two underlings of Gov. Chris Christie were arraigned on charges that they were in on the truly deranged plot to block traffic leading onto the George Washington Bridge.

Ten miles away, in Lower Manhattan, Dean G. Skelos, the leader of the New York State Senate, and his son, Adam B. Skelos, were arrested by the Federal Bureau of Investigation on accusations of far more conventional political larceny, involving a job with a sewer company for the son and commissions on title insurance and bond work.

The younger man managed to receive a 150 percent pay increase from the sewer company even though, as he said on tape, he “literally knew nothing about water or, you know, any of that stuff,” according to a criminal complaint the United States attorney’s office filed.

The success of Adam Skelos, 32, was attributed by prosecutors to his father’s influence as the leader of the Senate and as a potentate among state Republicans. The indictment can also be read as one of those unfailingly sad tales of a father who cannot stop indulging a grown son. The senator himself is not alleged to have profited from the schemes, except by being relieved of the burden of underwriting Adam.

The bridge traffic caper is its own species of crazy; what distinguishes the charges against the two Skeloses is the apparent absence of a survival instinct. It is one thing not to know anything about water or that stuff. More remarkable, if true, is the fact that the sewer machinations continued even after the former New York Assembly speaker, Sheldon Silver, was charged in January with taking bribes disguised as fees.

It was by then common gossip in political and news media circles that Senator Skelos, a Republican, the counterpart in the Senate to Mr. Silver, a Democrat, in the Assembly, could be next in line for the criminal dock. “Stay tuned,” the United States attorney, Preet Bharara said, leaving not much to the imagination.

Even though the cat had been unmistakably belled, Skelos father and son continued to talk about how to advance the interests of the sewer company, though the son did begin to use a burner cellphone, the kind people pay for in cash, with no traceable contracts.

That was indeed prudent, as prosecutors had been wiretapping the cellphones of both men. But it would seem that the burner was of limited value, because by then the prosecutors had managed to secure the help of a business executive who agreed to record calls with the Skeloses. It would further seem that the business executive was more attentive to the perils of pending investigations than the politician.

Through the end of the New York State budget negotiations in March, the hopes of the younger Skelos rested on his father’s ability to devise legislation that would benefit the sewer company. That did not pan out. But Senator Skelos did boast that he had haggled with Gov. Andrew M. Cuomo, a Democrat, in a successful effort to raise a $150 million allocation for Long Island to $550 million, for what the budget called “transformative economic development projects.” It included money for the kind of work done by the sewer company.

The lawyer for Adam Skelos said he was not guilty and would win in court. Senator Skelos issued a ringing declaration that he was unequivocally innocent.

THIS was also the approach taken in New Jersey by Bill Baroni, a man of great presence and eloquence who stopped outside the federal courthouse to note that he had taken risks as a Republican by bucking his party to support paid family leave, medical marijuana and marriage equality. “I would never risk my career, my job, my reputation for something like this,” Mr. Baroni said. “I am an innocent man.”

The lawyer for his co-defendant, Bridget Anne Kelly, the former deputy chief of staff to Mr. Christie, a Republican, said that she would strongly rebut the charges.

Perhaps they had nothing to do with the lane closings. But neither Mr. Baroni nor Ms. Kelly addressed the question of why they did not return repeated calls from the mayor of Fort Lee, N.J., begging them to stop the traffic tie-ups, over three days.

That silence was a low moment. But perhaps New York hit bottom faster. Senator Skelos, the prosecutors charged, arranged to meet Long Island politicians at the wake of Wenjian Liu, a New York City police officer shot dead in December, to press for payments to the company employing his son.

Sometimes it seems as though for some people, the only thing to be ashamed of is shame itself.

Artikel lainnya »