jual condotel mewah

Rp 2.422.000.000

Rumah Modern Paling Murah Depok RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL). Rumah Modern Paling Murah Depok

Rumah Modern Paling Murah Depok salah satu devisi dari KATV Group untuk yang bergerak di bidang agen properti. Saat ini baru menawarkan properti-properti KATV Group yang ada di beberapa kota untuk dijual. Jadi properti yang ditawarkan adalah milik sendiri. Rumah Modern Paling Murah Depok

Rumah Modern Paling Murah Depok

saco-indonesia.com, allahumma shalli 'alaa Muhammad ya rabbi shalli 'alaihi wa saliim allahumma shalli 'alaa Muhammad ya rabbi baalighul wasila oh Tuhanku yang slalu kuserukan dalam doa selamanya seumur hidupku

saco-indonesia.com,

allahumma shalli 'alaa Muhammad
ya rabbi shalli 'alaihi wa saliim
allahumma shalli 'alaa Muhammad
ya rabbi baalighul wasila

oh Tuhanku
yang slalu kuserukan dalam doa selamanya
seumur hidupku

dan napasku
yang slalu kuhirup di setiap waktu
hanya pada-Mu
kupasrahkan hidupku

di bawah langit biru
kusebutkan nama-Mu
karena ku tahu
engkaulah Tuhanku

di bawah rumput hijau
ku bersujud padaMu
karena ku tahu
akulah hamba-Mu ya Allah

oh Tuhanku
yang slalu kuserukan dalam doa selamanya
seumur hidupku

di bawah langit biru
kusebutkan nama-Mu
karena ku tahu
engkaulah Tuhanku

di bawah rumput hijau
ku bersujud pada-Mu
karena ku tahu
akulah hamba-Mu ya Allah

allahumma shalli 'alaa Muhammad
ya rabbi shalli 'alaihi wa saliim
allahumma shalli 'alaa Muhammad
ya rabbi baalighul wasila

Editor : dian sukmawati

saco-indonesia.com, Tiga orang yang telah diduga terlibat dalam kasus pembongkaran makam di kampung Cigaten, Pagedangan, Kabupat

saco-indonesia.com, Tiga orang yang telah diduga terlibat dalam kasus pembongkaran makam di kampung Cigaten, Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten, yakni Sobri (54), Irshad (45) dan Durat alias Bewok (49), kini telah diperiksa polisi sebagai saksi kasus tersebut.

Kapolsek Pedegangan AKP Murodih, juga mengatakan 3 orang tersebut belum memiliki bukti kuat atas dugaan pembongkaran 93 makam. Oleh sebab itu ketiganya kini dibebaskan.

"Hasil penyelidikan kami, 3 pekerja pembongkaran tersebut saat ini telah sebagai saksi dan dibebaskan. Itu karena kita belum kuat bukti untuk dapat ditetapkan sebagai tersangka," ujar Murodih, Kamis (6/1) kemarin .

Dia juga menuturkan, dari hasil laporan ahli waris yang merasa telah dirugikan hanya satu yang keberatan, yakni Saepudi. "Baru itu yang melapor. Itu juga salah satunya belum kuat bukti," ujarnya.

Selain itu, Murodih juga menjelaskan, dari keterangan ketiga saksi, pembongkaran makam telah dilakukan dengan cara mengangkat kain kafan. Sebab, dari keterangan dari masyarakat beredar kabar bahwa jenazah tersebut dibuang ke sungai Cisadane.

"Dari 93 jenazah itu tidak ada yang dibuang. Itu isu yang tidak benar," terang Murodih menegaskan.

Seperti yang telah diketahui, pembongkaran 93 makam Pagedangan telah disetujui oleh 14 ahli waris yakni Ramli, Saripudin, Suprata, Taing, Juned, Roiyah, Mansur, Tahsir, Ajhari, Hasan, Masun, Juriah dan Suhendi. Lalu hanya 1 yang dirugikan dan tidak diberi tahu.


Editor : Dian Sukmawati

At the National Institutes of Health, Dr. Suzman’s signature accomplishment was the central role he played in creating a global network of surveys on aging.

Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Artikel lainnya »