Jual Kavling di Sentul Nirwana

Rp 1.908.000.000

Rumah Nyaman Murah RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL).

Rumah Nyaman Murah RumahCantikku.com adalah salah satu devisi dari KATV Group untuk yang bergerak di bidang agen properti. Saat ini baru menawarkan properti-properti KATV Group yang ada di beberapa kota untuk dijual. Jadi properti yang ditawarkan adalah milik sendiri. Rumah Nyaman Murah

Rumah Nyaman Murah

saco-indonesia.com, Buyuang Paman yang berusia (46) tahun , warga Pasia Paneh, Nagari Tiku Selatan, Kecamatan Tanjung Raya, Kabu

saco-indonesia.com, Buyuang Paman yang berusia (46) tahun , warga Pasia Paneh, Nagari Tiku Selatan, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar) telah ditemukan tergantung pada seutas tali di rumah korban. Korban pertama kali telah ditemukan oleh istrinya Karmila yang berusia (29) tahun , saat sampai di rumah sehabis bekerja.

"Sesampai di rumah, saya telah melihat ada kaki menjuntai dari luar rumah. Saat saya masuk rumah, rupanya itu kaki suami saya yang sudah tidak bernyawa," kata Karmila di Lubuk Basung, Minggu (2/2) kemarin .

Melihat kondisi itu, dia telah menjerit dan meminta tolong kepada tetangga dan beberapa menit setelah itu, tetangga datang untuk dapat memberikan pertolongan.

Ia juga menambahkan, pagi sebelum pergi bekerja sebagai tukang cuci, korban juga masih dalam keadaan sehat dan tinggal sendirian di rumah. Mereka juga belum memiliki anak setelah lima tahun menikah.

Kapolsek Tanjung Mutiara Iptu Jamhur, juga membenarkan kejadian itu dan telah menurunkan anggota Polsek. Selain itu tim identifikasi dari Polres Agam juga telah turun, serta petugas kesehatan dari Puskesmas Tanjung Mutiara untuk visum.

Dari hasil penyidikan awal, diduga korban gantung diri, karena lidah dan sperma keluar. Namun pihak kepolisian tetap melanjutkan penyelidikan.

"Korban tergantung pada tali nilon di kuda-kuda rumah semi permanen dengan bantuan kaleng cat," katanya.

Setelah divisum, korban langsung dimandikan dan dimakamkan di pandam pekuburan kaum yang tidak jauh dari rumah koran.

Ia juga mengatakan, penyebab korban telah menghabisi nyawanya sendiri akibat permasalahan keluarga.

Lebih jauh, Kapolsek telah menjelaskan sebelumnya korban mendapatkan bantuan dana untuk rumah tidak layak huni dari pemerintah pusat sebesar Rp 15 juta.

Karena tidak memiliki lahan untuk dapat membangun rumah, korban telah meminta tanah satu bidang kepada orangtuanya. Orangtuanya telah memberikan lahan itu.

Namun setelah rumah dibangun, anggota keluarga yang lain menggugat korban. Korban juga sempat mengeluarkan kata-kata akan bunuh diri pada orangtuanya karena masalah tersebut.

"Ini juga merupakan informasi yang kami peroleh dari masyarakat," katanya.


Editor : Dian Sukmawati

Bekasi, Saco-Indonesua.com — Negara Belanda telah menciptakan pasar bagus yang memungkinkan orang untuk cukup mendapat makanan dengan harga relatif murah dan stabil dan jenis yang seimbang.

Bekasi, Saco-Indonesua.com — Negara Belanda telah menciptakan pasar bagus yang memungkinkan orang untuk cukup mendapat makanan dengan harga relatif murah dan stabil dan jenis yang seimbang.

Belanda menyalip Perancis dan Swiss sebagai negara dengan makanan paling bergizi, berlimpah, dan sehat, sementara Amerika Serikat dan Jepang gagal masuk dalam 20 besar, dalam sebuah daftar baru yang dirilis oleh Oxfam, Selasa (14/1/2014).

Chad ada di urutan terbawah dari daftar 125 negara, di belakang Etiopia dan Angola, dalam indeks makanan dari badan bantuan dan pembangunan internasional tersebut.

"Belanda telah menciptakan pasar bagus yang memungkinkan orang untuk cukup mendapat makanan. Harga relatif murah dan stabil dan jenis makanan yang dimakan pun seimbang," ujar Deborah Hardoon, peneliti senior Oxfam yang mengompilasi hasil-hasil tersebut.

"Belanda membentuk fundamental yang benar dan lebih baik dari sebagian besar negara di seluruh dunia."

Oxfam melakukan pemeringkatan berdasarkan ketersediaan, kualitas, serta harga makanan dan kesehatan makanan. Organisasi tersebut juga melihat persentase anak berbobot kurang, keberagaman makanan dan akses terhadap air bersih, serta hasil kesehatan negatif seperti obesitas dan diabetes.

Negara-negara Eropa mendominasi peringkat-peringkat teratas, tetapi Australia ada di antara 12 teratas, setara dengan Irlandia, Italia, Portugal, dan Luksemburg pada posisi delapan. Inggris berada di peringkat 13 akibat ketidakstabilan harga makanan dibandingkan barang-barang lain. Negara-negara Afrika, bersama Laos (112), Banglades (102), Pakistan (97), dan India (97) mendominasi 30 terbawah.

Indonesia berada di peringkat 83 setara dengan Rwanda, sedangkan negara Asia Tenggara lainnya berada di posisi lebih baik seperti Vietnam (71), Filipina, (67), Malaysia (44), dan Thailand (42).

Kelaparan

Oxfam mengatakan, angka-angka terakhir menunjukkan bahwa 840 juta orang kelaparan setiap hari, meski ada cukup makanan untuk mereka. Organisasi ini mendesak perubahan dalam cara produksi dan distribusi makanan di seluruh dunia.

Penyebab kelaparan, menurutnya, termasuk kurangnya investasi dalam infrastruktur di negara-negara berkembang dan dalam pertanian skala kecil, keamanan, persetujuan perdagangan prohibitif, target-target biofuel yang mengubah tanaman menjadi bahan bakar, dan dampak perubahan iklim.

Oxfam mengumpulkan data antara Oktober dan Desember 2013 menggunakan informasi terakhir dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), Badan Pangan dan Pertanian, dan Organisasi Buruh Internasional, serta badan-badan internasional lainnya.

 

Sumber :voaindonesia.com
Editor : Maulana Lee

Ms. Plisetskaya, renowned for her fluidity of movement, expressive acting and willful personality, danced on the Bolshoi stage well into her 60s, but her life was shadowed by Stalinism.

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Artikel lainnya »