Jual rumah di bogor

Rp 4.855.000.000

Tipe Rumah Bagus Murah Sentul RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL). Tipe Rumah Bagus Murah Sentul

Tipe Rumah Bagus Murah Sentul salah satu devisi dari KATV Group untuk yang bergerak di bidang agen properti. Saat ini baru menawarkan properti-properti KATV Group yang ada di beberapa kota untuk dijual. Jadi properti yang ditawarkan adalah milik sendiri. Tipe Rumah Bagus Murah Sentul

Tipe Rumah Bagus Murah Sentul

saco-indonesia.com, Warga Pondok Kopi, Jakarta Timur telah digegerkan dengan penemuan mayat di dalam mobil Nissan March dengan n

saco-indonesia.com, Warga Pondok Kopi, Jakarta Timur telah digegerkan dengan penemuan mayat di dalam mobil Nissan March dengan nomor polisi F 1356 KA warna putih. Mobil itu telah terpakir di samping TPU Pondok Kelapa.

Belum dapat diketahui pasti siapa pemilik mobil tersebut. Menurut pengakuan warga, Solikin yang berusia (35) tahun , sejak pagi tadi mobil tersebut telah terpakir dan tidak diambil oleh pemiliknya.

"Dari pagi saya buka bengkel sudah ada itu mobil. Pas dideketin sama warga lainnya kayak ada bau bangke," kata Solikin, di lokasi kejadian, Selasa (28/1).

Solikin juga mengatakan, warga yang telah melihat kejadian itu tidak berani untuk melakukan evakuasi. Warga pun langsung melaporkan ke pihak polisi.

"Bau busuk menyengat banget, warga langsung lapor polisi," ungkapnya.

Saat ini mobil tersebut masih terparkir di Jalan Pondok Kelapa, Kelurahan Pondok Kopi, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, tepatnya di depan TPU Pondok Kepala. Pihak kepolisian tiba di lokasi langsung melakukan olah TKP dan indentifikasi korban.


Editor : Dian Sukmawati

Kelompok Al Qaeda di kota Aleppo, Suriah, dilaporkan mengeksekusi seorang anak laki-laki berusia 15 tahun, Mohammad Qataa, di depan orangtuanya karena dianggap melakukan penistaan agama.

DAMASKUS, Saco-Indonesia.com — Kelompok Al Qaeda di kota Aleppo, Suriah, dilaporkan mengeksekusi seorang anak laki-laki berusia 15 tahun, Mohammad Qataa, di depan orangtuanya karena dianggap melakukan penistaan agama.

Editor :Liwon Maulana

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Mr. Paczynski was one of the concentration camp’s longest surviving inmates and served as the personal barber to its Nazi commandant Rudolf Höss.

Artikel lainnya »