Jual rumah di bogor

Rp 4.855.000.000

Tipe Rumah Indah 2016 Murah Bogor RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL). Tipe Rumah Indah 2016 Murah Bogor

Tipe Rumah Indah 2016 Murah Bogor salah satu devisi dari KATV Group untuk yang bergerak di bidang agen properti. Saat ini baru menawarkan properti-properti KATV Group yang ada di beberapa kota untuk dijual. Jadi properti yang ditawarkan adalah milik sendiri. Tipe Rumah Indah 2016 Murah Bogor

Tipe Rumah Indah 2016 Murah Bogor

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) juga mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan bekerja sama dengan pihak swasta dalam mengelola kawasan Kota Tua. Harapannya akan menjadi tempat yang ramai dikunjungi wisatawan. "Kita ingin swasta kelola selama 10-30 tahun. Suruh mereka bagusin. Gudang-gudang jelek dibagusin lagi. Dibangun usaha juga biar ramai," ujarnya di Balai Kota DKI Jakarta. Ahok juga menambahkan, pembuatan konsep untuk mengelola pusat kota Jakarta tempo dulu telah disusun dengan matang. Oleh karena itu ia yakin pihak swasta akan ambil bagian dalam konsorsium Kota Tua sehingga tidak akan mengalami kerugian. "Suruh masing-masing sewa dan beli gedung-gedung yang tidak keurus, lalu buka usaha di sana. Jadi, jangan sendiri aja di sana, harus ramai-ramai. Konsepnya gitu sih," ungkapnya. Revitalisasi kawasan Kota Tua bakal akan dilaksanakan mulai hari ini , 13 Maret 2014. Revitalisasi itu telah dimulai dari gedung PT Pos Indonesia, seberang Museum Fatahillah. Rencananya, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang akan meluncurkan dimulainya revitalisasi. Seperti yang telah diketahui, terdapat 85 bangunan yang akan direvitalisasi. Tidak hanya merehabilitasi fisik bangunan, revitalisasi juga menyasar pada mengaktifkan kegiatan-kegiatan berbasis seni dan budaya hingga industri kreatif di gedung tersebut.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) juga mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan bekerja sama dengan pihak swasta dalam mengelola kawasan Kota Tua. Harapannya akan menjadi tempat yang ramai dikunjungi wisatawan.

"Kita ingin swasta kelola selama 10-30 tahun. Suruh mereka bagusin. Gudang-gudang jelek dibagusin lagi. Dibangun usaha juga biar ramai," ujarnya di Balai Kota DKI Jakarta.

Ahok juga menambahkan, pembuatan konsep untuk mengelola pusat kota Jakarta tempo dulu telah disusun dengan matang. Oleh karena itu ia yakin pihak swasta akan ambil bagian dalam konsorsium Kota Tua sehingga tidak akan mengalami kerugian.

"Suruh masing-masing sewa dan beli gedung-gedung yang tidak keurus, lalu buka usaha di sana. Jadi, jangan sendiri aja di sana, harus ramai-ramai. Konsepnya gitu sih," ungkapnya.

Revitalisasi kawasan Kota Tua bakal akan dilaksanakan mulai hari ini , 13 Maret 2014. Revitalisasi itu telah dimulai dari gedung PT Pos Indonesia, seberang Museum Fatahillah. Rencananya, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang akan meluncurkan dimulainya revitalisasi.

Seperti yang telah diketahui, terdapat 85 bangunan yang akan direvitalisasi. Tidak hanya merehabilitasi fisik bangunan, revitalisasi juga menyasar pada mengaktifkan kegiatan-kegiatan berbasis seni dan budaya hingga industri kreatif di gedung tersebut.

Museum fatahillah merupakan salah satu objek wisata bersejarah yang berada di kota DKI Jakarta yang dapat anda kunjungi bersama

Museum fatahillah merupakan salah satu objek wisata bersejarah yang berada di kota DKI Jakarta yang dapat anda kunjungi bersama keluarga ataupun teman – teman anda. Museum yang terdapat di Jakarta Barat ini tepatnya di Jalan Taman Fatahillah No 2, juga di kenal dengan nama lainnya sebagai Museum Batavia ataupun Museum Sejarah Jakarta oleh masyarakat sekitar.

Objek wisata museum fatahillah telah mempunyai luas sekitar 1300 meter persegi yang telah dibangun sekitar tahun 1707 hingga 1710. Sejarah Museum Fathillah ini di bangun sebagai pusat Balai Kota Stadhius oleh seorang Gubernur yang bernama Jendral Johan Van Hoorn. Namun setelah Indonesia mencanangkan dirinya telah merdeka, hingga pada tanggal 30 maret 1974 gedung tersebut telah di ambil alih secara penuh dan di fungsikan sebagai bangunan Museum Fatahillah oleh presiden Soekarno.

Arsitektur Bangunan Dan Koleksi Peninggalan Sejarah Museum Fatahillah

Jika anda memperhatikan dengan seksama, Bangunan Museum Fatahillah hampir sama dengan sebuah Istana Dam yang terdapat di Amsterdam Belanda. Di mana bangunan tersebut telah mempunyai arsitektur dengan dua sayap pada bagian barat dan timur dengan berbagai macam fungsi sebagai tempat kerja, tempat pengadilan dan beberapa ruangan penjara bawah tanah.

Museum Fatahillah telah memberikan berbagai macam peninggalan – peninggalan bersejarah mulai dari cerita perjalanan kota Jakarta, beberapa replika peninggalan kerajaan pajajaran dan tarumanegara, benda – benda arkeologi yang pernah di temukan di Jakarta, dan masih banyak lagi yang lainnya. Semua situs yang di temukan telah di simpan di sekitar 5 ruangan berbeda; Ruang MH Thamrin, Jayakarta, Sultan Agung, Tarumanegara dan Fatahillah.

Selain berbagai macam peninggalan bersejarah yang dapat anda temukan di Museum Fatahillah, anda juga dapat melihat berbagai benda – benda kebudayaan betawi, kendaraan becak dan sekarang ini ada sebuah patung Dewa Hermes yang merupakan seorang dewa perlindungan dan keberuntungan.

Anda juga akan menemukan berbagai macam fasilitas – fasilitas umum yang mempermudah untuk dapat melakukan berbagai aktivitas dengan aman dan nyaman, seperti tempat perpustakaan, kantin, toko perbelanjaan, sinema fatahillah, musholla (tempat ibadah umat islam), ruang pameran dan pertemuan, dan sebuah taman yang di tumbuhi berbagai macam tanaman hias dengan luas sekitar 1000 meter persegi. Taman tersebut juga sering digunakan untuk berbagai keperluan mulai dari pentas seni, gathering ataupun resepsi pernikahan.

Secara garis besar, objek wisata museum fatahillah juga merupakan salah satu wisata bersejarah yang patut anda kunjungi untuk lebih mengenal lebih jauh tentang sejarah yang ada di Indonesia, khususnya untuk kota Jakarta Sendiri. Museum ini di buka setiap hari mulai pukul 8 pagi hingga pukul 2 siang pada hari senin, hari jum-at hingga pukul 11:30 dan untuk hari sabtu hingga pukul 1 siang.

Demikian uraian singkat mengenai museum fathillah jakarta, semoga dengan kita selalu mengunjungi tempat seperti ini, akan dapat menambah wawasan kita mengenai sejarah dari Negara Indonesia yang kita cinta ini. Nah untuk kamu yang ingin menambah wawasan mengenai budaya Indonesia dan Sejarah Indonesia, anda juga dapat berkunjung ke Museum Wayang Jakarta dan Museum Satria Mandala yang lokasinya masih di Jakarta Juga.

Though Robin and Joan Rolfs owned two rare talking dolls manufactured by Thomas Edison’s phonograph company in 1890, they did not dare play the wax cylinder records tucked inside each one.

The Rolfses, longtime collectors of Edison phonographs, knew that if they turned the cranks on the dolls’ backs, the steel phonograph needle might damage or destroy the grooves of the hollow, ring-shaped cylinder. And so for years, the dolls sat side by side inside a display cabinet, bearers of a message from the dawn of sound recording that nobody could hear.

In 1890, Edison’s dolls were a flop; production lasted only six weeks. Children found them difficult to operate and more scary than cuddly. The recordings inside, which featured snippets of nursery rhymes, wore out quickly.

Yet sound historians say the cylinders were the first entertainment records ever made, and the young girls hired to recite the rhymes were the world’s first recording artists.

Year after year, the Rolfses asked experts if there might be a safe way to play the recordings. Then a government laboratory developed a method to play fragile records without touching them.

Audio

The technique relies on a microscope to create images of the grooves in exquisite detail. A computer approximates — with great accuracy — the sounds that would have been created by a needle moving through those grooves.

In 2014, the technology was made available for the first time outside the laboratory.

“The fear all along is that we don’t want to damage these records. We don’t want to put a stylus on them,” said Jerry Fabris, the curator of the Thomas Edison Historical Park in West Orange, N.J. “Now we have the technology to play them safely.”

Last month, the Historical Park posted online three never-before-heard Edison doll recordings, including the two from the Rolfses’ collection. “There are probably more out there, and we’re hoping people will now get them digitized,” Mr. Fabris said.

The technology, which is known as Irene (Image, Reconstruct, Erase Noise, Etc.), was developed by the particle physicist Carl Haber and the engineer Earl Cornell at Lawrence Berkeley. Irene extracts sound from cylinder and disk records. It can also reconstruct audio from recordings so badly damaged they were deemed unplayable.

“We are now hearing sounds from history that I did not expect to hear in my lifetime,” Mr. Fabris said.

The Rolfses said they were not sure what to expect in August when they carefully packed their two Edison doll cylinders, still attached to their motors, and drove from their home in Hortonville, Wis., to the National Document Conservation Center in Andover, Mass. The center had recently acquired Irene technology.

Audio

Cylinders carry sound in a spiral groove cut by a phonograph recording needle that vibrates up and down, creating a surface made of tiny hills and valleys. In the Irene set-up, a microscope perched above the shaft takes thousands of high-resolution images of small sections of the grooves.

Stitched together, the images provide a topographic map of the cylinder’s surface, charting changes in depth as small as one five-hundredth the thickness of a human hair. Pitch, volume and timbre are all encoded in the hills and valleys and the speed at which the record is played.

At the conservation center, the preservation specialist Mason Vander Lugt attached one of the cylinders to the end of a rotating shaft. Huddled around a computer screen, the Rolfses first saw the wiggly waveform generated by Irene. Then came the digital audio. The words were at first indistinct, but as Mr. Lugt filtered out more of the noise, the rhyme became clearer.

“That was the Eureka moment,” Mr. Rolfs said.

In 1890, a girl in Edison’s laboratory had recited:

There was a little girl,

And she had a little curl

Audio

Right in the middle of her forehead.

When she was good,

She was very, very good.

But when she was bad, she was horrid.

Recently, the conservation center turned up another surprise.

In 2010, the Woody Guthrie Foundation received 18 oversize phonograph disks from an anonymous donor. No one knew if any of the dirt-stained recordings featured Guthrie, but Tiffany Colannino, then the foundation’s archivist, had stored them unplayed until she heard about Irene.

Last fall, the center extracted audio from one of the records, labeled “Jam Session 9” and emailed the digital file to Ms. Colannino.

“I was just sitting in my dining room, and the next thing I know, I’m hearing Woody,” she said. In between solo performances of “Ladies Auxiliary,” “Jesus Christ,” and “Dead or Alive,” Guthrie tells jokes, offers some back story, and makes the audience laugh. “It is quintessential Guthrie,” Ms. Colannino said.

The Rolfses’ dolls are back in the display cabinet in Wisconsin. But with audio stored on several computers, they now have a permanent voice.

“It was really nice to play with other women and not have this underlying tone of being at each other’s throats.”

Artikel lainnya »