jual ruko

Rp 1.820.000.000

Tipe Rumah Modern Murah Bogor RumahCantikku.com adalah agen properti yang berkator di KATV Group, Saladin Square B-12, Jl. Margonda Raya No.39, Depok, Jawa Barat. KATV Group adalah group usaha di baah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (KITIRAN), dimana core bisnisnya adalah Pengelolaan dan Advertising KATV (Televisi Kabel Kereta Api Eksekutif ), yaitu televisi hiburan bagi penumpang di atas kereta api eksekutif. Selain itu KITIRAN juga bergerak di bidang advertising untuk promosi luar ruang khusus stasiun-stadiuan dan promsoi di dalam kereta eksekutif dan kereta komuter (KRL). Tipe Rumah Modern Murah Bogor

Tipe Rumah Modern Murah Bogor salah satu devisi dari KATV Group untuk yang bergerak di bidang agen properti. Saat ini baru menawarkan properti-properti KATV Group yang ada di beberapa kota untuk dijual. Jadi properti yang ditawarkan adalah milik sendiri. Tipe Rumah Modern Murah Bogor

Tipe Rumah Modern Murah Bogor

saco-indonesia.com, Saat anda ingin membeli laptop baru, anda juga harus bisa mempertimbangkan berbagai aspek agar tidak menyesa

saco-indonesia.com, Saat anda ingin membeli laptop baru, anda juga harus bisa mempertimbangkan berbagai aspek agar tidak menyesal dikemudian hari. Apa saja yang harus diperhatikan? Untuk dapat menjawabnya, silahkan simak artikel kami tentang tips membeli laptop baru

tips membeli laptop
Tips Membeli Laptop BaruTips Membeli Laptop Baru

1. Spesifikasi itu penting

Spesifikasi adalah hal yang sangat penting. Perlu Anda ketahui kebutuhan tiap orang dalam menggunakan laptop itu sangat berbeda-beda. Maka dari itu, definisikan dulu kebutuhan Anda saat ini. Apakah anda seorang pelajar atau mahasiswa? Apakah anda seorang guru? Apakah Anda seorang desainer? Atau apakah Anda seorang gamer?

Dari masing-masing kebutuhan tersebut, akan dapat memunculkan spesifikasi yang berbeda-beda. Ambil contoh seorang mahasiswa yang sangat membutuhkan laptop untuk dapat mengerjakan tugas-tugas kuliah, mencari referensi di internet, dan membutuhkan media hiburan dengan aneka game komputer lainnya. Ia juga tak memerlukan laptop dengan spesifikasi cukup tinggi.

Ia juga bisa memilih laptop dengan spesifikasi yang sesuai dengan kebutuhan, misalnya prosesor dual-core, dengan RAM cukup 2GB saja, plus VGA standar. Sehingga dengan begitu, ia juga tidak perlu menghabiskan banyak uang untuk dapat membeli laptop dengan spesifikasi tinggi yang pastinya berharga mahal.

Oleh karena itu, menentukan kebutuhan itu sangat penting pada saat Anda ingin membeli laptop baru.

2. Brand menentukan kualitas

Ini hal yang sudah biasa, laptop dengan brand yang terkenal pasti telah memiliki kualitas yang lebih baik. Bukannya tanpa, tapi coba Anda perhatikan, laptop-laptop dengan brand terkenal biasanya telah memiliki harga relatif tinggi jika dibandingkan dengan brand biasa.

Ini bukan karena mereka menang di brand atau sebagainya makanya membuat harga yang mahal. Melainkan karena produk yang diciptakan juga telah memiliki standar kualitas yang baik serta berbagai komponen laptop tersebut memang menggunakan komponen yang bagus juga.

Selain itu, laptop dengan brand terkenal juga masih memiliki nilai jual kembali yang cukup tinggi nantinya. Jadi memilih brand juga tergolong penting pada saat Anda ingin membeli laptop baru.

3. Perhatikan garansi yang diberikan

Selain dalam memperhatikan spesifikasi dan brand, keberadaan garansi juga merupakan hal yang penting. Pada saat Anda ingin membeli laptop, coba perhatikan berapa lama waktu garansi yang telah diberikan oleh produsennya.

Karena tidak semua laptop dapat memberikan waktu garansi yang sama. Mungkin ada yang memberikan garansi selama satu tahun, atau bahkan ada juga yang memberikan waktu garansi selama dua tahun.

Semakin lama waktu garansi yang telah diberikan akan semakin baik. Jangan takut untuk mengurus garansi bila suatu saat laptop Anda telah mengalami kerusakan. Selain dengan menghemat uang, laptop Anda juga akan diperbaiki teknisi resmi dari penyedia brand laptop tersebut.

Itulah beberapa tips dalam membeli laptop baru. Semua aspek di atas sangat penting untuk anda perhatikan dengan baik, agar tidak salah dalam memilih laptop. Setelah membaca tips di atas, semoga anda telah mendapat gambaran dalam hal membeli laptop baru.


Editor : Dian Sukmawati
Sumber : Bangbiw.com

saco-indonesia.com, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah menjelaskan alasan pemerintah untuk mengeluarkan Peraturan Pem

saco-indonesia.com, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah menjelaskan alasan pemerintah untuk mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) tentang Mahkamah Konstitusi (MK). SBY juga tak memaksa DPR untuk menyetujuinya.

"Menjadi hak konstitusional presiden untuk dapat menerbitkan Perppu dengan latar belakang, tujuan dan pertimbangan tertentu. Adalah menjadi hak DPR apakah setuju atau tidak dengan Perppu yang sudah dikeluarkan oleh presiden. Itu juga sudah ketentuan di UUD 45," kata SBY di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu (18/12/2013).

Menurut SBY, salah satu alasan mengapa ia telah menerbitkan Perrpu MK karena telah melihat adanya krisis kepercayaan dari masyarakat kepada MK pasca mantan ketuanya, Akil Mochtar, tertangkap tangan menerima suap.

"Yang perlu saya sampaikan adalah mengapa Perppu MK saya terbitkan? Karena ada sejumlah latar belakang dan alasan. Saat ada sesuatu telah terjadi di tubuh MK, maka ada krisis kepercayaan dari rakyat terhadap MK kendati tidak ada persoalan dengan MK secara lembaga. Namun karena terkait pimpinan MK, ada gelombang ketidakpercayaan yang tinggi kepada MK," beber SBY.

Oleh karena itu, ia juga berkonsultasi dengan pimpinan lembaga tinggi negara dan memutuskan untuk segera menerbitkan Perppu MK tersebut.

"Setelah saya berkonsultasi dengan pimpinan berbagai lembaga negara, para pimpinan partai koalisi pemerintah dan para pakar tata negara, saya terbitkan. Perppu itu juga mengatakan kewibawaan MK agar tetap terjaga dan telah memiliki kepercayaan dari rakyat," ungkapnya.

Perppu MK ini, kata SBY, sangat penting untuk dapat memperkuat MK dan mengembalikan kepercayaan rakyat.

"Hal ini penting untuk berjalannya MK sebagai lembaga negara. Karena harus ada sesuatu yang baru untuk MK. Tujuan Perppu untuk dapat memperkuat, menjaga wibawa dan mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap MK," tukasnya.


Editor : Dian Sukmawati

Though Robin and Joan Rolfs owned two rare talking dolls manufactured by Thomas Edison’s phonograph company in 1890, they did not dare play the wax cylinder records tucked inside each one.

The Rolfses, longtime collectors of Edison phonographs, knew that if they turned the cranks on the dolls’ backs, the steel phonograph needle might damage or destroy the grooves of the hollow, ring-shaped cylinder. And so for years, the dolls sat side by side inside a display cabinet, bearers of a message from the dawn of sound recording that nobody could hear.

In 1890, Edison’s dolls were a flop; production lasted only six weeks. Children found them difficult to operate and more scary than cuddly. The recordings inside, which featured snippets of nursery rhymes, wore out quickly.

Yet sound historians say the cylinders were the first entertainment records ever made, and the young girls hired to recite the rhymes were the world’s first recording artists.

Year after year, the Rolfses asked experts if there might be a safe way to play the recordings. Then a government laboratory developed a method to play fragile records without touching them.

Audio

The technique relies on a microscope to create images of the grooves in exquisite detail. A computer approximates — with great accuracy — the sounds that would have been created by a needle moving through those grooves.

In 2014, the technology was made available for the first time outside the laboratory.

“The fear all along is that we don’t want to damage these records. We don’t want to put a stylus on them,” said Jerry Fabris, the curator of the Thomas Edison Historical Park in West Orange, N.J. “Now we have the technology to play them safely.”

Last month, the Historical Park posted online three never-before-heard Edison doll recordings, including the two from the Rolfses’ collection. “There are probably more out there, and we’re hoping people will now get them digitized,” Mr. Fabris said.

The technology, which is known as Irene (Image, Reconstruct, Erase Noise, Etc.), was developed by the particle physicist Carl Haber and the engineer Earl Cornell at Lawrence Berkeley. Irene extracts sound from cylinder and disk records. It can also reconstruct audio from recordings so badly damaged they were deemed unplayable.

“We are now hearing sounds from history that I did not expect to hear in my lifetime,” Mr. Fabris said.

The Rolfses said they were not sure what to expect in August when they carefully packed their two Edison doll cylinders, still attached to their motors, and drove from their home in Hortonville, Wis., to the National Document Conservation Center in Andover, Mass. The center had recently acquired Irene technology.

Audio

Cylinders carry sound in a spiral groove cut by a phonograph recording needle that vibrates up and down, creating a surface made of tiny hills and valleys. In the Irene set-up, a microscope perched above the shaft takes thousands of high-resolution images of small sections of the grooves.

Stitched together, the images provide a topographic map of the cylinder’s surface, charting changes in depth as small as one five-hundredth the thickness of a human hair. Pitch, volume and timbre are all encoded in the hills and valleys and the speed at which the record is played.

At the conservation center, the preservation specialist Mason Vander Lugt attached one of the cylinders to the end of a rotating shaft. Huddled around a computer screen, the Rolfses first saw the wiggly waveform generated by Irene. Then came the digital audio. The words were at first indistinct, but as Mr. Lugt filtered out more of the noise, the rhyme became clearer.

“That was the Eureka moment,” Mr. Rolfs said.

In 1890, a girl in Edison’s laboratory had recited:

There was a little girl,

And she had a little curl

Audio

Right in the middle of her forehead.

When she was good,

She was very, very good.

But when she was bad, she was horrid.

Recently, the conservation center turned up another surprise.

In 2010, the Woody Guthrie Foundation received 18 oversize phonograph disks from an anonymous donor. No one knew if any of the dirt-stained recordings featured Guthrie, but Tiffany Colannino, then the foundation’s archivist, had stored them unplayed until she heard about Irene.

Last fall, the center extracted audio from one of the records, labeled “Jam Session 9” and emailed the digital file to Ms. Colannino.

“I was just sitting in my dining room, and the next thing I know, I’m hearing Woody,” she said. In between solo performances of “Ladies Auxiliary,” “Jesus Christ,” and “Dead or Alive,” Guthrie tells jokes, offers some back story, and makes the audience laugh. “It is quintessential Guthrie,” Ms. Colannino said.

The Rolfses’ dolls are back in the display cabinet in Wisconsin. But with audio stored on several computers, they now have a permanent voice.

Mr. Miller, of the firm Weil, Gotshal & Manges, represented companies including Lehman Brothers, General Motors and American Airlines, and mentored many of the top Chapter 11 practitioners today.

Artikel lainnya »