Jual rumah di bogor

Rp 4.855.000.000

saco-indonesia.com, Siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tugu Utara 22, Muhammad Badrul Tamam yang berusia (7) tahun, tewas terlinda

saco-indonesia.com, Siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tugu Utara 22, Muhammad Badrul Tamam yang berusia (7) tahun, tewas terlindas truk kontainer B 9899 UEH di Jalan Kramat Jaya, Koja, Jakarta Utara, Selasa (28/1). Saat itu Tamam berangkat diantar ibunya Elfayanti yang berusia (31) tahun dengan motor Honda Spacy B 3535 UAX.

"Motor sama kontainer sejajar jalan beriringan, tapi tiba-tiba motor mengerem mendadak ngindarin lubang yang ada di depannya dan jatuh terlindas ban belakang kontainer. Anaknya masih pakai baju sekolah mental ke kanan, ibunya ke kiri," ujar Yono , Selasa (28/1).

Selain itu, lanjut Yono, kemudian sopir truk langsung turun ketika telah mengetahui kontainer yang dikendarainya telah menabrak motor.

"Sopir syok lihat korban anak yang pakai baju sekolah kelindas sempat panik dan takut digebukin," tandasnya.

Yono juga menambahkan, setelah kejadian ibu korban masih bisa berjalan, bahkan dirinya juga sempat menjawab alamat rumahnya.

"Orang tuanya masih bisa jalan dan belum sempat pingsan. Saya juga sempat tanya alamat di mana bu, 'dia bilang alamat di Balai Rakyat'. Satu jam kemudian keluarga korban datang dan langsung dibawa ke Rumah Sakit Pelabuhan," tandasnya.

Sementara itu, Petugas Kepolisian Polsek Koja Aiptu Akub S mengatakan, bahwa saat kejadian sopir sedang berdua dengan kernetnya Sohib (16) menuju pelabuhan. Saat itu dia dari arah simpang lima Semper setelah keluar dari pool mobilnya di daerah Cilincing.

"Kejadian sekitar pukul 10.00 WIB pagi tadi, sopir sudah kita amankan. Selanjutnya kita serahkan ke unit Laka Lantas untuk proses penyelidikan," pungkasnya.


Editor : Dian Sukmawati

saco-indonesia.com, Grebek rumah di Bogor, Densus 88 telah menyita bahan kimia dan airsoftgun Detasemen Khusus (Densus) 88 An

saco-indonesia.com, Grebek rumah di Bogor, Densus 88 telah menyita bahan kimia dan airsoftgun

Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri telah menyita bahan kimia, airsoft gun dan senjata tajam dari rumah milik terduga teroris, Sadullah Rojak yang berusia (40) tahun. Penggerebekan telah berlangsung di Perumahan Alamanda Mega Sentul, Rt 002/Rw 08, Desa Pasirlaja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Dilansir Antara, Kamis (2/1), Densus 88 telah langsung memasuki rumah yang telah dihuni istri pertama dan kedua Rojak. Di dalamnya, mereka telah menemukan sejumlah benda berbahaya yang telah disimpan Rojak.

Dari hasil penggeledahan, polisi telah menemukan senjata jenis airsoft gun, satu senjata sejenis pulpen, setengah karung pupuk urea, dan satu galon berisi bahan berbentuk serbuk.

Pupuk urea, sebagaimana deterjen bubuk, bisa menjadi salah satu bahan penting bom rakitan berdaya ledak rendah.

Seperti yang diketahui Densus 88 telah melakukan penggerebakan di Rumah Rojak sejak pukul 18.00 WIB. Pada pukul 20.50 WIB, polisi telah membawa Rojak berikut barang bukti ke Markas Besar Kepolisian Indonesia, di bilangan Blok M, Jakarta Selatan.

Selain Rojak, tiga saksi juga telah diamankan oleh polisi. Salah satunya yang juga merupakan keponakan Rojak.

Belum dapat diketahui penggerebekan tersebut terkait dengan penggerebekan yang telah terjadi di Kampung Sawah, Ciputat Tanggerang Selatan pada malam pergantian tahun, Selasa (31/12), atau bukan. Hingga kini, belum ada pernyataan yang resmi baik dari pejabat Polres Bogor maupun Densus 88 terkait operasi tersebut.

Dalam penggerebekan sebelumnya yang terjadi di Ciputat dan Rempoa, anggota Densus 88 telah terlibat baku tembak dengan sejumlah terduga teroris yang bersembunyi di dalam rumah kontrakan. Keenam terduga teroris tewas diterjang peluru petugas karena telah melakukan perlawanan.


Editor : Dian Sukmawati

Mr. Haroche was a founder of Liberty Travel, which grew from a two-man operation to the largest leisure travel operation in the United States.

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Artikel lainnya »