Jual Kavling di Sentul Nirwana

Rp 1.908.000.000

Sebagian orang telah beranggapan bahwa mengecat dinding rumah adalah pekerjaan yang mudah, akan tetapi ternyata mengecat rumah a

Sebagian orang telah beranggapan bahwa mengecat dinding rumah adalah pekerjaan yang mudah, akan tetapi ternyata mengecat rumah ada tehnik tersendiri untuk bisa mendapatkan hasil pengecatan yang maksimal.

Perhatikan hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses pengecatan rumah.

Pertama kali, pentingnya untuk bisa mengetahui apakah perlu atau tidaknya tembok disekrap, langkah yang harus dilakukan, kuaskan air pada permukaan dan tunggu sampai beberapa saat. Jika permukaan tampak gelembung-gelembung, maka tembok harus disekrap.

Bersihkan permukaan tembok yang akan di cat sebelumnya dengan menggunakan air hangat kemudian tunggu hingga

kering sebelum anda melakukan proses pengecatan rumah.

Untuk bisa menghemat cat dan menutup pori-pori dinding disarankan menggunakan plamir. Setelah tembok atau bagian yang akan di cat telah kering, mulailah mengecat dengan plamir, tunggu sampai kering dan cat

dengan dasar cat (putih) dan tunggu sampai kering.

Untuk anda yang belum mempunyai teknik pengecatan, anda juga dapat mempraktekan teknik-teknik pengecatan di tahap ini. Karena baik atau jelek hasil anda, tidak akan kelihatan pada akhir pengecatan.

 

Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntut terdakwa dalam kasus dugaan suap pembangunan Pembangkit Listrik

Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntut terdakwa dalam kasus dugaan suap pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 1.000 megawatt di Tarahan, Lampung, pada tahun 2004 lalu , Izedrik Emir Moeis, dengan pidana penjara selama empat tahun enam bulan. Menurut Jaksa Supardi, politikus PDI Perjuangan itu dianggap terbukti telah menerima suap USD423.985 dalam pembangunan enam bagian PLTU Tarahan. "Menuntut, supaya majelis hakim telah menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa Izedrik Emir Moeis selama empat tahun enam bulan dikurangi masa tahanan," jelas Jaksa Supardi saat membacakan tuntutan Emir, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Senin (10/3/2014). Jaksa Supardi juga telah menuntut Emir dengan pidana denda sebesar Rp200 juta. Apabila tidak dibayar, maka mantan Ketua KomiI XI DPR itu harus menjalani pidana kurungan selama lima bulan. Sebelumnya, Emir didakwa telah menerima suap lebih dari USD423.985 berikut bunga dari Alstom Power Incorporated (Amerika Serikat) dan memenangkan konsorsium Alstom Inc., Marubeni Corporation (Jepang), dan PT Alstom Energy System (Indonesia) dalam pembangunan enam bagian PLTU Tarahan melalui Presiden Direktur Pacific Resources Inc., Pirooz Muhammad Sharafih. Atas tindakannya, Emir diduga bertentangan dengan kewajiban sebagai anggota DPR yang membidangi energi,sumber daya mineral, riset dan teknologi serta lingkungan hidup.

Mr. Pfaff was an international affairs columnist and author who found Washington’s intervention in world affairs often misguided.

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Artikel lainnya »