diposkan pada : 03-05-2016 11:11:43 Wonderful Indonesia Tari Gending Sriwijaya

Pesona Indonesia Propinsi Sumatera Selatan merupakan suatu kawasan seluas 99.888,28 kilometer persegi di pulau Sumatra bagian Barat yang terletak di sebelah Selatan garis khatulistiwa pada 10 - 40 derajat lintang Selatan dan 102 -108 derajat Bujur Timur. Bagian daratan propinsi ini berbatasan dengan propinsi Jambi di sebelah Utara dan propinsi Lampung di Selatan, propinsi Bengkulu di bagian Barat serta di bagian Timur berbatasan dengan pulau Bangka dan Belitung. Sumatera Selatan dikenal juga dengan sebutan Bumi Sriwijaya karena wilayah ini pada abad 712 Masehi merupakan pusat kerajaan maritim terbesar dan terkuat di Indonesia yang berpengaruh sampai ke Formosa dan Cina di Asia serta Madagaskar di Afrika.

Disamping itu, Sumatra Selatan sering pula disebut sebagai Daerah Batanghari Sembilan, karena di kawasan ini terdapat 9 sungai besar yang dapat dilayari sampai jauh ke hulu, yakni: sungai Musi, Ogan, Komering, Lematang, Kelingi, Rawas, Batanghari Leko dan Lalan serta puluhan lagi cabang-cabangnya. Pesona Indonesia Topografinya di kawasan Timur hingga garis pantai didominasi rawa-rawa dan lebak yang dipengaruhi pasang surut. Di bagian tengah dan makin ke Barat merupakan dataran rendah dan lembah yang luas. Lebih jauh ke Barat terdiri dari perbukitan dan pegunungan yang menjadi mata rantai Bukit Barisan yang membentang sepanjang pulau Sumatra dari Aceh hingga Lampung.

Puncak-puncak Bukit Barisan di Sumatra Selatan diantaranya adalah Gunung Dempo (3159 meter), Gunung Patah (2107 meter), Gunung Bungkuk (2125 meter) dan Gunung Seminung (1954 meter) dimana di kaki gunung ini terdapat Danau Ranau yang luasnya 118 kilometer persegi. Dari hasil susenas tahun 2002 Sumatera Selatan berpenduduk sebanyak 7.167.972 jiwa. Pesona Indonesia Penduduk asli terdiri dari beberapa suku yang masing-masing mempunyai bahasa dan dialek sendiri. Namun dalam komunikasi sehari-hari mempergunakan bahasa Indonesia atau bahasa lokal. Suku-suku tersebut antara lain suku Palembang, Ogan, Komering, Seniendo, Pasemah, Gumay, Lintang, Musi Rawas, Meranjat, Kayuagung, Ranati dan Kisam.

Pesona Indonesia Semua suku ini hidup berdampingan dan saling membaur dengan suku-suku pendatang termasuk dengan orang asing. Bahkan banyak terjadi perkawinan antar suku. Mereka memiliki adat-istiadat dan tradisi sendiri yang acapkali tercermin dalam upacara perkawinan dan peristiwa-peristiwa penting suatu suku. Meski tiap kelompok etnik memiliki corak khas dalam kebudayaan dan struktur bahasa sendiri, namun tetap merupakan kesatuan yang bulat yang sulit dipisahkan satu sama lain dalam lingkungan hukum adat. Mereka juga saling mempengaruhi sehingga unsur kebudayaan yang satu terdapat juga pada kebudayaan suku lainnya.

Beautiful Indonesia Mayoritas penduduk memeluk agama Islam yang berpengaruh pula terhadap adat istiadat, budaya dan kehidupan sehari-hari. Hari-hari besar Islam secara umum dirayakan dengan khitmad, seperti Hari Raya Idulfitri, Iduladha, Maulud Mi’radj, Nuzulul Quran dan lain sebagainya. Masjid dan mushollah hampir terdapat di setiap pelosok. Salah satu seni tarinya yang dikenal luas adalah Gending Sriwijaya, tari spesifik masyarakat Sumatra Selatan untuk menyambut tamu istimewa yang berkunjung ke daerah ini. Beautiful Indonesia Tarian ini mencerminkan sikap ramah, gembira, bahagia, tulus dan terbuka terhadap kunjungan para tamu istimewa atau para pendatang.

Wonderful Indonesia Tarian Gending Sriwijaya

Pesona Indonesia Gending Sriwijaya merupakan lagu dan tarian tradisional masyarakat Kota Palembang, Sumatera Selatan. Melodi lagu Gending Sriwijaya diperdengarkan untuk mengiringi Tari Gending Sriwijaya. Baik lagu maupun tarian ini menggambarkan keluhuran budaya, kejayaan, dan keagungan kemaharajaan Sriwijaya yang pernah berjaya mempersatukan wilayah Barat Nusantara. Lirik lagu ini juga menggambarkan kerinduan seseorang akan zaman di mana pada saat itu Sriwijaya pernah menjadi pusat studi agama Buddha di dunia.

Beautiful Indonesia Tarian ini digelar untuk menyambut para tamu istimewa yang bekunjung ke daerah tersebut, seperti kepala negara Republik Indonesia, menteri kabinet, kepala negara / pemerintahan negara sahabat, duta-duta besar atau yang dianggap setara dengan itu. Untuk menyambut para tamu agung itu digelar suatu tarian tradisional yang salah satunya adalah Gending Sriwijaya, tarian ini berasal dari masa kejayaan kemaharajaan Sriwijaya di Kota Palembang yang mencerminkan sikap tuan rumah yang ramah, gembira dan bahagia, tulus dan terbuka terhadap tamu yang istimewa itu.

Pesona Indonesia Tarian Gending Sriwijaya digelarkan 9 penari muda dan cantik-cantik yang berbusana Adat Aesan Gede, Selendang Mantri, paksangkong, Dodot dan Tanggai. Mereka merupakan penari inti yang dikawal dua penari lainnya membawa payung dan tombak. Sedang di belakang sekali adalah penyanyi Gending Sriwijaya. Namun saat ini peran penyanyi dan musik pengiring ini sudah lebih banyak digantikan tape recorder. Dalam bentuk aslinya musik pengiring ini terdiri dari gamelan dan gong. Sedang peran pengawal kadang-kadang ditiadakan, terutama apabila tarian itu dipertunjukkan dalam gedung atau panggung tertutup. Penari paling depan membawa tepak sebagai Sekapur Sirih untuk dipersembahkan kepada tamu istimewa yang datang, diiringi dua penari yang membawa pridon terbuat dari kuningan. Persembahan Sekapur Sirih ini menurut aslinya hanya dilakukan oleh putri raja, sultan, atau bangsawan. Pembawa pridon biasanya adalah sahabat akrab atau inang pengasuh sang putri. Demikianlah pula penari-penari lainnya.

 

 

Artikel lainnya »