diposkan pada : 24-06-2016 10:04:05 Pusat penjualan jembatan timbang

Jembatan timbang merupakan seperangkat media utk menimbang kendaraan barang/truk yg akan dipasang dengan cara terus atau fasilitas yg sanggup dipindah-pindahkan (portable) yg dimanfaatkan utk mengetahui berat kendaraan beserta muatannya dimanfaatkan buat pengawasan jalan maupun buat mengukur besar nya muatan terhadap industri, pelabuhan maupun pertanian. Sebenarnya istilah yg benar merupakan Timbangan Jembatan. Kabar & Layanan Jembatan Timbang baru

jembatan timbang, timbangan lantai, timbangan truk, timbangan hewan, truck scale, jual jembatan timbang, jual jembatan timbang murah, jual jembatan timbang berkualitas, pusat penjualan jembatan timbang.

Dasar Hukum Jembatan timbang di Indonesia

Dasar Hukum dari penerapan jembatan timbang yakni Kilo Meter 5 Th 1995 menyangkut Penyelenggaraan Penimbangan Kendaraan Bermotor di Jalan.

 

Fungsi-fungsi Pemantauan utk Jembatan timbang

Perihal ini dilakukan buat menonton gelagat atau tren lalu-lintas angkutan barang & kelebihan muatan. Pasti saja dgn perkembangan yg pesat tipe kendaraan, sehingga jembatan timbang yg lama tak sanggup lagi mengawasi dulu lintas angkutan barang dewasa ini, lantaran jembatan timbang lama mempunyai kapasitas rendah & timbangan yg pendek.

Fungsi pengawasan buat Jembatan timbang

Lalu-lintas angkutan barang butuh diawasi tonasenya & type barangnya, supaya Pemerintah akan memantau permintaan & tawaran dari barang tersebut.

Fungsi penindakan buat Jembatan timbang

Tiap jurusan atau ruas jalan memiliki kelas jalan, yg berarti kapabilitas daya dukung jalan berdasarkan Ketetapan Menteri. Utk menjaga kerusakan jalan butuh dilakukan penindakan berdasarkan berat tonase yg diijinkan, berikut toleransinya, dimana kendaraan bermotor tak boleh melebihi muatan, kepada jaringan jalan masing-masing pulau berikut ini. Bersama ketetapan ini, sehingga kendaraan yg melebihi muatan bakal ditindak serasi dgn ketetntuan yg berlaku.

 

Mengenai dgn kebijaksanaan Pemerintah dalam menanggulangi muatan lebih lewat penetapan kelas jalan :

  • 1. Kep. Menhub No. Kilometer 55 th 1999 mengenai Penetapan Kelas Jalan di Pulau Jawa
  • 2. Kep. Menhub No. Kilometer 1 thn 2000 menyangkut Penetapan Kelas Jalan di Pulau Sumatera,
  • 3. Kep. Menhub No. Kilometer 13 th 2001 berkenaan Penetapan Kelas Jalan di Pulau Sulawesi,
  • 4. Kep. Menhub No. Kilo Meter 1 thn 2003 menyangkut Penetapan Kelas Jalan di Pulau Kalimantan,

 

Beberapa Tipe dan Jenis Jembatan timbang di Indonesia

1. Jembatan timbang konvensional

Jembatan timbang konvensional terdiri dari satu buah platform buat menimbang semua kendaraan beserta muatannya, maka dibutuhkan platform sepanjang 10 meter maka total as roda truk rigid bakal berada dalam platform, sedang utk gandengan & tempelan rata rata ditimbang apalagi dulu truk penarik selanjutnya baru dilakukan penimbangan kepada kereta gandengan atau kereta tempelannya.

 

2. Jembatan timbang sumbu

Merupakan timbangan yg menimbang muatan sumbu, di mana masing-masing sumbu ditimbang satu persatu setelah itu utk mengetahui berat total truk dilakukan perjumlahan.

 

3. Jembatan timbang portabel

Yaitu timbangan yg mampu dipindah-pindahkan, mampu berupa timbangan utk masing-masing roda atau buat seluruhnya kendaraan sekaligus.

 

4. Jembatan timbang mutahir

Sehubungan dewasa ini konfigurasi kendaraan & arus lalu-lintas yg tinggi, sehingga difungsikan jembatan timbang canggih. Jembatan timbang modis ini mesti dengan cara automatis menimbang kendaraan yg melalui, ialah dgn timbangan elektronik digital yg terkomputerisasi, artinya dengan cara automatis kendaraan bakal ditimbang dengan cara total & batas-batas toleransi pelanggaran yg diijinkan. Contohnya, dengan cara bertahap pelanggaran dapat dikurangi dimulai toleransi kelebihan muatan 70%, seterusnya 50%, kemudian 30%, dst. Elemen ini dimungkinkan bersama acara computer dengan cara bertahap diubah. Di Indonesia, sebenarnya dapat dimulai kepada Jembatan Timbang Losari (Cikampek).

 

Alat-alat Jembatan Timbang

Alat jembatan timbang rata rata terdiri atas :

1. Komplek jembatan timbang & dikasih pagar keliling

2. Jurusan keluar-masuk kendaraan yg dapat ditimbang

 

Platform jembatan-jembatan timbang

Bangunan operasional jembatan timbang, yg terdiri atas : tempat operator timbangan, ruangan administrasi, area kepala, WC/Kamar Mandi, Ruangan istirahat Pegawai, tempat rapat, dapur, gudang genset atau peralatan.

Buat jembatan timbang yg jauh dari kota, sehingga diperlengkapi dgn mess Pegawai. diluar itu pun ada alat oleh raga (badminton/pimpiong), ruang ibadat (mushola, kapel).

Kemudian utk memenuhi penegakkan hukum, sehingga di dalam komplek jembatan timbang tersebut sedia gudang atau pelataran penumpukan buat menaruh barang kelebihan muatan yg ditindak.

Proses Penimbangan Kendaraan Dengan Cara Konvensional

Dalam memproses penimbangan kendaraan, sehingga dilakukan sbg berikut :

1. Kendaraan masuk komplek jembatan timbang lewat rute masuk

2. Kendaran berakhir diatas platform buat ditimbang

3. Pegawai timbang mengaktifkan timbangan utk diliat berat kendaraan.

4. Utk jembatan timbang modis, Pegawai seterusnya memasukkan data JBB/JBKB kendaraan, & computer menghitung dengan cara automatic.

5. Jika akhirnya bahwa berjalan kelebihan muatan, sehingga sopir/kenek seterusnya membayar denda cocok dgn kelebihan muatan.

6. Tetapi bila kelebihan muatan terlampaui agung serasi peraturan, sehingga kendaraan setelah itu memasuki rute gudang/palataran daya simpan muatan lebih, & kendaraan memasuki jurusan timbangan utk ditimbang sekali lagi, bila masihlah kelebihan muatan masuk ke palataran penumpukan barang,

7. Bila telah OK, kendaraan ke luar lewat trayek ke luar,

 

Proses Jembatan Timbang Modis

Terhadap jembatan timbang modis terdapat dua deteksi penimbangan (saksikan sampel dibawah ini).

 

Penimbangan awal. Kendaraan masuk kepada media deteksi awal, dimana dengan cara automatis kendaraan yg kelebihan muatan yg berlebihan sekali terdeksi yg tak masuk dalam toleransi, & mesti masuk rute pembongkaran buat membongkar kelebihan muatan, selanjutnya masuk lagi ke deteksi awal.

Penimbangan Kendaraan. Kendaraan yg telah OK masuk jurusan penimbang & berakhir di palform buat ditimbang. Apabila tetap kedapatan kelebihan muatan yg masuk dalam tolrensi, sehingga sopir/kenek bayar denda & retribusi, atau yg OK tetap ke luar sesudah membayar retribusi.

 

Batasan Muatan & Toleransi Muatan Lebih

Penindakan toleransi muatan lebih butuh diambil juga sebagai kebijaksanaan penindakan muatan lebih, factor ini disebabkan lantaran tak kemungkinan Pemerintah bersama seketika menindak kendaraan yg bermuatan lebih tepat batas muatan kelas jalan. Dengan Cara berangsur-angsur muatan bakal disesuaikan bersama batas serasi kelas jalan. Contohnya buat step perdana diberikan toleransi 70%, artinya suatu kendaraan masihlah diberikan dispensasi muatan 170% dgn batas kelas jalan. Dengan Cara berangsur toleransi muatan dapat dikurangi jadi 50%, setelah itu 30%, dst.

Contohnya satu buah truk bersama konfigurasi 1 - 2.2 atau Truk Tronton & 1 - 2.2 - 2.2.2 atau trailer kepada Jalan Kelas II masing-masing dikasih JBI 22 ton & 43 ton (perhatikan Tabel di bawah ini) [3], berarti bersama toleransi 70% utk Kelas II muatan jadi 170% x 22 ton sama bersama 37,4 ton, & 170% x 43 ton sama bersama 73,1 ton,

Ini berarti kepada toleransi 70% utnuk Truk Tronton 1 - 2.2 dgn muatan 50 ton & Trailer 1 - 2.2 - 2.2.2 dgn muatan 90 ton, masing-masing kelebihan muatan 12,6 ton & 16,9 ton mesti dibongkar di arena lapang penumpukan barang atau gudang.

Seperti ketahuan toleransi 70% yaitu utk kondisi kini, sedangkan rencananya Pemerintah bakal mengurangi dengan cara bertahap & hasilnya diizinkan cuma 10% saja toleransi kelebihan muatan

 

Tabel JBI untuk masing-masing konfigurasi kendaraan:

Konfigurasi sumbu

Jumlah sumbu

Jenis

JBI Kelas II

JBI Kelas III

1 - 1

2

Truk Engkel

12 ton

12 ton

1 - 2

2

Truk Besar

16 ton

14 ton

1 - 2.2

3

Truk Tronton

22 ton

20 ton

1.1 - 2.2

4

Truk 4 sumbu

30 ton

26 ton

1 - 2 - 2.2

4

Trailer

34 ton

28 ton

1 - 2.2 - 2.2

5

Trailer

40 ton

32 ton

1 - 2.2 - 2.2.2

6

Trailer

43 ton

40 ton

Sumber: Ditjen Perhubungan Darat

Artikel lainnya »