diposkan pada : 23-12-2016 10:14:35

Sebagai seorang awam perkeretaapian, saya menghormati TeknovasiKA secara ilmu, karena dia tidak berpendapat bahwa kereta api adalah monopoli urusan orang yang mengerti dan ahli kereta api. Melainkan urusan dan ‘milik’ semua orang, atau kalau dalam skala Negara: ia milik semua rakyat dan warganegara. Kereta api dan Stasiun bukan hanya wilayah modernitas dan profesionalisme, ia juga area silaturahmi kemanusiaan, bahkan mungkin semacam kampung kebudayaan.

Ketika duduk di bangku Stasiun yang kini sudah ‘beradab’, sehingga suasananya tertib dan senyap, yang meskipun ada banyak orang tapi mereka bukan ‘komunitas’ yang kental sebagaimana di Stasiun jaman dahulu kala – saya sering melamun. Menoleh ke sekeliling, menikmati kereta indonesia setiap bagian dari bangunan Stasiun, rel-rel yang menjulur, suara gemuruh yang magis tatkala kereta datang dan pergi. Saya mengagumi betapa indahnya pernikahan antara Tuhan dengan ummat manusia. Betapa dahsyatnya rumahtangga peradaban yang ditawarkan oleh Tuhan dan dimanifestasikan oleh manusia.

Semula ilmu, terutama matematika, fisika, arsitektur, patuh 100% kepada syariat Tuhan yang dipasalkan sebagai hukum alam. Stasiun berdiri tegak dengan presisi di garis lurus antara pusat bumi dengan pangkal tali di jari-jarinya Tuhan di arasy. Listrik menyala dan memancarkan cahaya berdasarkan ketaatan kepada aturan khilafah yang menikahkan arus positif dengan negatif (: mohon mulai tidak salah paham tentang ‘Pernikahan di Stasiun’). Kereta api dibikin, diperjalankan, berdasarkan adjusment terhadap ekosistem nilai alam yang sudah di’manual’kan oleh Tuhan di Lauhil Mahfudh.

Lima kali lima tidak bisa disogok dengan jumlah uang berapapun untuk menjadi 30 atau 20. Stasiun tegak berdiri, rel-rel dijulurkan, gas dan rem dipastikan, semuanya ‘sakinah’, berada pada tempatnya secara tepat menurut aturan ‘khilafah’ itu (tanpa ada kaitannya dengan Hizbut Tahrir). Seluruh infrastruktur, perangkat-perangkat, papan-papan rel hingga mur dan baut, harus ‘sakinah’ 100%. Beda dengan pernikahan manusia yang posisinya dinamis, sehingga “semoga sakinah”. Juga mungkin bagaimana manusia mengaplikasikan semua benda-benda sakinah perkereaapian itu, bagaimana Stasiun diisi, bagaimana pernikahan Negara dengan Rakyat di dalamnya, bagaimana pernikahan teknologi dengan kemanusiaan, bagaimana pernikahan antara industri dengan kebudayaan di dalamnya: berposisi “semoga sakinah”.

Di rumah teduh TeknovasiKA terdapat sejumlah Profesor Kehidupan yang selalu menyebarkan kearifan bahwa alam dan bumi bukan milik ummat manusia, melainkan rekanan dalam kerja pengelolaan kesejahteraan dan kebahagiaan. Bahwa rakyat bukan milik Negara atau bawahan Pemerintah, melainkan (aslinya) sebaliknya. Bahwa lembaga perkereta-apian dalam konstruksi Negara bukan pemilik kereta-api, melainkan petugas yang digaji untuk kerja penyelenggaraannya. Apalagi pada hakiki rasionalitasnya para pengguna kereta api adalah majikan yang memungkinkan kereta api menjadi ada.

Apalagi semua perangkat kereta api dibangun bukan dengan biaya Pemerintah, melainkan dengan sebagian dari harta rakyat, yang dimandatkan untuk diselenggarakan oleh Pemerintah, buruh mereka. Secara budaya kereta api adalah ‘kekasih’ semua orang yang mencintainya, baik mencintai dengan menikmati fasilitasnya maupun dengan berempati dari luar kereta api, rel dan stasiun. Perusahaan yang mengurusi kereta api bukan BUMP (Badan Usaha Milik Pemerintah), melainkan BUMN (milik Negara), dan pemilik Negara adalah pihak yang punya berbagai hal yang memungkinkan Negara diadakan dan diselenggarakan, dengan menugasi sejumlah orang di antara mereka.

Secara ilmu, yang perangkat utamanya adalah akal sehat dan kelengkapan pengetahuan: semua pengurus perkereta-apian perlu memelihara ingatan bahwa semua warganegara, setiap orang dari rakyat, termasuk setiap penumpang kereta api – memiliki hak untuk menjadi manusia, dengan berbagai kelengkapan kemakhlukannya, tidak sekedar ‘seonggok’ penumpang kereta api.

Kehidupan dilangsungkan melalui dinamika interrelasi antara manusia dengan alam, syukur Tuhan ditemukan juga bahwa Ia terlibat penuh. Interrelasi antara manusia dengan alam itu bisa berupa kerjasama (ijtihad yang menghasilkan teknologi), tawar menawar, tarik menarik, bahkan ‘pernikahan’ (sebagaimana antara Tuhan dengan makhluk-Nya, antara Pemerintah dengan rakyatnya, serta antara lelaki dengan perempuan), atau bisa juga penindasan, eksplorasi yang gradasinya menuju eksploitasi.

Pernikahan antara penyelenggaraan kereta api dengan penikmat kereta api, bisa berlangsung dalam posisi saling mengapresiasi dan saling mengabdi, mencari moderasi, resultan, titik tengah atau garis adil, antara kepentingan profesional perkereta-apian — dengan penumpangnya, yang masuk Stasiun dan gerbong tanpa bisa sepenuhnya membuang kemanusiaan dan kebudayaannya. Yang penumpang membatasi diri untuk tidak terlalu menuntut kelonggaran agar bisa melampiaskan keperluan kemanusiaan dan selera budayanya. Yang kereta api juga meskipun sedikit perlu mengingat bahwa konsumen mereka adalah manusia.

Pernikahan antara kereta api dengan penikmatnya yang “litaskunu ilaiha” alias sakinah alias saling memberi ruang, saling menjamin keamanan, dimanifestasikan dengan kesadaran untuk bersama menjaga keseimbangan hubungan, pemenuhan keperluan masing-masing dan bersama, menjalin indahnya aransemen pemenuhan kewajiban dan hak pada keduanya.

Saya sangat mengerti bahwa hampir mustahil mengharapkan kereta api memahami manusia. Naif dan lucu kalau memimpikan Negara, perusahaan, profesionalisme, industri, kapitalisme – untuk memahami manusia, untuk mencari ada lembar-lembar tentang manusia di buku-buku teknis pengelolaan perusahaannya. Sebenarnya ada juga manusia disebut-sebut, tapi ia bukan titik berat pertimbangan dalam penyelenggaraan Negara, perusahaan dan perekonomian. Jangan manusia: sedangkan Tuhan yang diletakkan di Sila Pertamapun tidak pernah dihadirkan sebagai rujukan primer di dalam merundingkan segala sesuatu yang menyangkut perjalanan Negara dan perilaku Pemerintah.

Secara pribadi saya juga sama sekali tidak menuntut hal itu. Ini hanya tulisan yang saya tulis karena diminta untuk menulis. Dan saya tidak punya apapun kecuali yang saya tulis. Juntrungan pikiran dalam tulisan ini juga juntrungan pikiran saya sendiri, yang konstruksi dan alurnya ‘tidak bau sekolahan’ sama sekali. Sangat wajar kalau tulisan ini menjengkelkan, membosankan dan menimbulkan ejekan, cibiran, yang sangat wajar keluar dari pikiran orang-orang yang terpelajar dan beradab.

Apalagi saya juga tidak cukup apresiatif terhadap pengetahuan perkeretaapian. Bagaimana mungkin saya menuntut kereta api memahami saya, sedangkan saya sendiri tidak memahami kereta api. Pengetahuan saya misalnya di Stasiun Tugu Yogya jaman dulu terbatas pada Wesel 16, sebelah barat Stasiun. Itupun Wesel 16 tidak sebagai kode teknis perkeretaapian. Melainkan Wesel 16 sebagai istilah budaya ‘Las Vegas’ : suatu tempat kecil di utara rel, di mana (dulu) terdapat pelacuran kelas terendah (yang pelaksanaan transaksinya di balik gerumbul-gerumbul dedaunan), minuman keras, rumah-rumah judi di urata dan baratnya, serta berbagai jenis maksiat lainnya.

Warganegara Wesel 16 adalah saudara-saudara saya, sahabat-sahabat saya, pemenuh ruang iba di kalbu saya. Sebagaimana banyak para pedagang makanan, para Tikyan (entuk sethithik lumayan), Mr Macan, Profesor Gemblek atau Panglima Gun Jack yang sekarang sudah berlalu, atau terlempar entah ke mana. Mereka, sebagaimana saya, adalah kotoran-kotoran yang menghambat kemajuan zaman, sampah-sampah yang harus disingkirkan oleh cleaning service dunia profesional modern.

Emha Ainun Nadjib

(Sumber:Teknovasika.com)

Artikel lainnya »